Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Izinkan Aku Pergi

Aku tahu, kita bersama sudah mengelilingi beratus-ratus rotasi bumi. Bukan satu detik atau dua detikkan, atau semisal kamu ingin menghitungnya pakai jari, tidak mungkin-- karena salah. Aku milikmu, bahkan hati ini, tidak ada yang lain. Kalau kaukira aku punya kekasih lain, perkiraanmu bernilai nol besar. Sifatku, kebiasaanku, membiarkanmu mengeluarkan celoteh-celotehanmu yang berulang-ulang. Memasang telinga sudah jadi keharusanku, terkadang membuat aku dongkol sendiri. Aku tahu kamu menyayangiku. Mungkin masa kejenuhanku sudah diujung tanduk, yang selama ini aku gunungkan dalam benakku. Berdebat sudah jadi kebiasaan dalam halaman hubungan kita. Aku lelah, aku ingin lepas, terbang seperti burung. Tapi, kamu masih selalu memaksaku untuk tetap berdiri bersamamu, menggenggam erat tanganku—walaupun aku tahu tak sejalan dengan apa yang hatimu inginkan. Berkali-kali aku katakan, biarkan aku pergi sebentar. Tapi, air matamu selalu memaksa agar aku tetap tinggal, tetap memelukmu. Biarka...

LDR (Long Distance Relationship)

Pertemuan adalah sesuatu yang amat dirindukan, ketika jarak dan dinding waktu menghalangi tatap kita. Malam dan pagi adalah rotasi yang selalu ditunggu, karena semakin cepat waktu berputar, pertemuan kita semakin dekat; mata dan mata saling menatap, jemari yang saling menggenggam erat, berayun manja ditepi pantai-- bersama vespa kesayanganmu. Tak ada yang aku sangat rindukan malam ini, kecuali hamparan ombak yang menemani kita disetiap pertemuan, membawa romansa malam semakin manis. Ketika sandaran paling hangat aku rasakan berada dipundakmu, sambil kau mengusap kepalaku; katanya kau paling senang membelai rambutku. Ya, rambut yang tergerai panjang ini. Aku rindu, senyuman simetrismu ketikakau menyambutku turun dari bus yang berasal dari Kota Kembang. Kau mengambil tanganku untuk kau genggam, seakan kau tak membiarkanku untuk pergi lagi. Satu kalimat yang selalu menyapa disetiap awal pertemuan itu, “Aku merindukanmu!”. Itu menyentuh hatiku, sesak haru dadaku—karena aku bahagia melih...

Biarkan Aku Tetap Ada

Baiklah, aku akan pergi. Aku menyerah, aku langkahkan kakiku dari tempat dimana kamu berdiri. Simpanlah aku dalam untaian-untaian do’amu. Sebutlah dan rasakan namaku dalam fikiranmu. Biarkalah aku tetap ada, teman. Simpan dan kuburlah dalam peti hatimu; masa-masa indah yang pernah kita maknai. Hubungi aku jika kau merindukanku, satu atau dua kali dalam setahun. Biarkanlah aku sesekali menjadi seliran fikiranmu, walaupun namanya yang selalu menggema dalam fikiranmu. Biarkanlah aku tetap ada, teman. Telah aku ambil sihir kegelapanmu. Dan kugantikan kau dengan bintang benderang yang aku miliki di atas namamu. Biarlah aku tetap ada, teman. Jika aku tak hadir dalam hari kebahagiaanmu. Jangan pernah kau teteskan kesedihanmu. Karena do’a terbesarku selalu aku bubuhkan di atas namamu. Kisah-kisah kedekatan kita tak bisa terhitung oleh jari. Begitu seringnya kita membagi waktu dalam pagi hingga petang memanggil; kuhabiskan bersamamu di halaman-halaman hari kita....

Selamat Ulang Tahun, Ayah!

Ayah. Semoga nafas terakhirku ada di kakimu. Aku akan selalu mencintaimu karena Allah. Semoga Allah selalu mensejahterakan engkau, dengan rahmat dan berkahnya. Ayah. Kau adalah jiwaku, dan hidupku. Kau adalah dunia, dan surgaku. Apa yang aku bisa lakukan tanpamu. Oh Tuhan, apa yang akan bisa kulakukan tanpanya. Ayah. Waktu sudah membiarkan umurmu terus mengalir, hingga hari ini tepat di umurmu yang ke-73. Aku lebih sangat bahagia masih bisa melihat senyummu, tawa kecilmu yang terkadang kau sipukan malu-malu. Walaupun aku tahu, banyak lelahmu, banyak laramu, banyak letihmu yang kau sembunyikan. Tapi, pada kenyataannya kau masih tetap bisa berdiri dengan tegap dan tegar seperti prajurit Allah yang hebat. Mulutmu tak pernah berkata kau menyayangiku, tapi dari belaianmu--ketika kau usap rambut dan kepalaku; aku tahu, aku bisa merasakan bahwa kau lebih sangat menyayangiku lebih dari yang aku tahu. Maaf, semoga Allah memaafkanku. Karena mungkin aku belum bisa ...

Kehilangan

Aku dan kamu; sudah seperti sepatu, berjalan selalu beriringan; sudah seperti air, selalu mengalir bersama-sama. Aku akan ikut bersamamu, disampingmu, menggenggam tanganmu dengan erat, memelukmu dengan hangat saat kau merasa kedinginan. Kita satu, seperti tidak terpisahkan. Perkiraanku salah, ini bernilai nol besar. ​Aku membuka mataku lebar-lebar​, berharap ini hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk yang membawaku dalam kegelisahan yang tak tertahankan. Aku menyadarkan diri dalam-dalam, apa aku sedang tertidur. Aku rasa, tidak. Pertanyaanku besar; apa yang terjadi. Tuhan, apa yang terjadi dengan hubunganku dengan dia. Kemarin-kemarin aku masih bahagia bersamanya, tertawa terbahak-bahak seakan tidak ada beban. Saat ini, aku harus kehilangan dia. Bagaimana aku jelaskan, dia sudah menjadi kelemahanku, dia sudah menjadi kebiasaanku. Bagaimana aku jelaskan keadaan hatiku gelisah tanpanya. Aku kehilangan diriku sendiri. Mengangis semalaman pun tidak akan mengembalikan d...

Bawa Aku Kembali ke Awal

Aku tak pernah menyangka bisa mengenalmu begitu dalam, sampai kamu bisa menarik hatiku dan membuat aku lebih mencintai dirimu daripada diriku sendiri. Bahkan kamu mengalihkan perhatianku untuk selalu menyayangimu, selalu berusaha ada saat kau membutuhkanmu, dan kamupun melakukan hal yang sama. Tak pernah sedetikpun aku kehilangan perhatian dari seorang kekasih sejak kamu berada di koridor hariku. Kamu selalu mempunyai seribu cara untuk membuat aku bahagia, dan tidak berpaling pada yang lain. Yang aku tahu; kamu adalah apa yang selalu aku inginkan. Entah bagaimana caranya, aku selalu merasa sempurna  sejak kamu ada bersamaku. Tertawa, bahagia, aku sampai lupa sejak kapan aku terluka karena orang yang salah. Aku mengerti, jalan cinta tak selamanya mulus. Akan sulit, jika kita mengangapnya sulit, dan akan mudah, jika kita menganggapnya mudah. Dan mungkin kita lupa kata "mudah" itu sehingga sulit adalah pilihan kita. Ketika berpisah adalah jalan terakhir kita. Meng...

Satu Tahun Kehilanganmu

Angin di bulan September menembus sampai ke buku-buku kulitku, dan Sang Hujan tak pernah berhenti untuk mengabsenkan dirinya hinggap di dinding hari. Entah bagaimana air hujan bisa akrab dengan bulan September ini. Membawa rindu yang tak pernah mau bertanggung jawab, menelan hari bersama sepinya hati, menelantarkan sunyi untuk mengenal malam. Coba kau tengok keluar sebentar, mataharipun sedikit malu-malu untuk menguasai siang, karena mendung selalu menjadi pemeran utama di bulan September ini. Bukan awan mendung egois, tapi mungkin matahari ingin mendukung sang perindu agar sedikit terbebaskan dari jerat-jerat yang terkadang sulit diungkapkan. Rindu. Ya, benar, aku sangat mengenal rindu bersama hujan. Karena hujan selalu menyembunyikan rindu-rindu dibalik air yang jatuh ke bumi. Seperti perasaan ini yang masih saja mau menjelma dalam fikiranku, bukan hatiku, aku pertegas lagi---menjelma dalam fikiranku, bukan hatiku. Karena satu tahun kehilangannya adalah satu tahun aku membiarkan...

Kamu; Untuk Aku

Aku tak pernah meminta kedatangannya. Tapi, Allah-lah yang menghadirkannya untukku. Aku selalu percaya, Allah tak akan membuat lama aku patah hati, memendam sepi, mengiris sunyi sendiri, karena Allah tahu; bagaimana untuk menempatkan sesuatu yang tepat. Begitupun saat Allah menggariskan takdirnya untuk aku. Semua itu Allah yang membuat. Aku tak tahu menau tentang itu. Allah selalu mempunyai seribu cara untuk mempertemukan yang tidak jodoh menjadi jodoh, ataupun sebaliknya. Akupun pernah berjarak denganmu. Bahkan tak mengenal kata antar kata, sapa antar sapa, obrolan antar obrolan; tapi sekarang kamu yang selalu menjadi obrolanku. Menjadi pemeran utama dalam moodbosterku .  Aku mengerti, tak selamanya kamu menyenangkan, setiap orang pasti punya sisi menyebalkan, dan kamu juga ada dalam sisi itu. Tapi, menurutku lebih banyak menyenangkannya, prilaku kamu yang seakan membuat aku berfikir; kamu aneh, kamu alay, kamu gendut--selebihnya dibalik itu semua kamu adalah My Ev...

Kupeluk Komitmenku

Berawal dari ucapan "Terima kasih.", singkat tetapi menghasilkan sebuah cinta. Cinta yang sebelumnya--belum pernah terfikirkan. Keisengan itu membuahkan suka, berkembang menjadi cinta, dan menjalar sampai ke pelupuk jiwa. Mengapa ini terjadi, aku tak bisa menjawabnya, mungkin kisah ini yang paling bisa menjawabnya.  Rumit, aku rasa ya. Aku tetap dengan erat menggenggam tangannya, walaupun pada kenyataannya dia memeluk kekasihnya. Benteng perbedaan yang tinggi, sudah jelas-jelas ada di depan mata, tetapi aku tetap ingin menjaganya dengan hangat. Walaupun seribu badai yang menerjang, aku akan tetap berlari di jalanku dalam komitmenku. Bodoh, orang-orang pasti banyak berceloteh seperti itu. Aku tak peduli omong kosong yang diteriaki orang-orang disekitarku. Yang aku tahu, ini aku, ini kisahku, dan ini adalah komitmenku---sedikit sakit, tetapi membuat aku belajar bagaimana untuk mengikat kuat sebuah janji. Untuk Naiina, Dari Sepotong Mimpi yang Sempat Hilang ...

Sentilan Hati

Namanya juga hati; mudah rapuh, mudah meleleh, mudah mencair kalau disakiti. Aku pernah sangat bahagia, dulu, saat kau simpan aku di hati dari sebelah hati, dan aku pernah menjadi orang yang mungkin sangat menyakiti dan membuat dengki hati seseorang. Dan sekarang, aku merasakan hal yang sama. Mungkin ini sentilan bagiku, saat aku ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik, manusia adem ayem yang selalu  berusaha membuat nyaman hati seseorang. Kalau merasakan cemburu itu wajar, mudah dengki---wajar juga, karena aku punya rasa memiliki dia. Aku tak akan ceritakan dia siapa, karena aku rasa sudah berlipat-lipat aku gambarkan tentang dia. Bukan benci, tapi cinta juga punya titik kebosanan. Dan katanya kita harus mahir-mahir meng-upgrade ulang, memperbaharuinya. Tapi, apa bisa kita selalu bertepuk tangan sendirian, menunggu dia agar melakukan hal yang sama, sedangkan sorakan kita tak membuat dia tertarik. Kau bodoh, berjuang sendirian. "Hahahaha..", aku dengar ...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Ajaklah Duduk Bersama

Ada yang lebih menyakitkan daripada perpisahan, yaitu kehilangan. Bayangkan saja, dulu-- dia selalu hadir dalam setiap harimu, mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat tidur "sweet dream". Tetapi, jika itu menjadi sebuah kebiasaan-- lalu tiba-tiba menghilang, kamu yakin bisa tanpa dia. Apalagi sudah bertahun-tahun kamu menggenggam tangannya, kamu tahu kebiasaannya, kamu tahu kelemahannya, kelebihannya, kesukaannya, ketidaksukaannya, itu menyakitkan, coba ingatlah sebentar. Kamu yang biasa diantar atau dijemput di sekolah, di tempat kerja, di rumah temanmu, atau bahkan yang lainnya-- itu pengorbanan, seharusnya kamu tahu betul itu, dia meluangkan waktu untuk menatap kamu, menyapa kamu, tersenyum, bersenda gurau-- hanya untuk kamu. Senyum manisnya menyambutmu, berharap lelahmu hilang dalam setiap mata pelajaran yang berputar seharian diotakmu, atau bahkan meredakan setress dari tumpukan file-file dikerjaanmu, cacian maki dari atasanmu. Tapi, dia hadir saa...

Kamu; 96,8 km

96,8 km adalah kamu. Kamu yang selalu aku rindukan dibalik jarak. Jarak yang selalu membuatku menahan sesaknya dada. Mengempiskan asa yang terpendam. 96,8 km adalah perjalanan. Perjalanan untuk bertemu kamu. Menatap kedua bola matamu yang sayu. Selalu memaksa untuk menentang kelelahan dari setiap waktu. 96,8 km adalah rindu. Rindu yang selalu mengelilingi otakku disetiap malam. Tak pernah berhenti untuk berkata, "Temui aku!" Selalu membuatku menggugahkan semangat jiwaku. 96,8 km, tunggu aku pulang!

Ini tentang keadaan

Aku seharusnya tahu diri bagaimana aku harus bersikap. Tapi, dengan dinginnya sikapmu, bahkan perhatian besarpun-- jika itu aku harapkan darimu, pada ujungnya akan menghasilkan nilai nol besar, bodoh. Aku, wanita yang sudah bersamamu bukan hanya satu atau dua tahun seperti hal nya anak-anak muda jaman sekarang yang sedang berombak dalam cinta. Aku sudah bersamamu selama 17 tahun. ​​ Aku tidak akan salahkan waktu, mungkin kita sudah melabuhi waktu yang sangat lama, sehingga titik kebosanan itu pasti datang, menggempal di otakmu dan mungkin dalam otakku juga. Aku juga tidak akan salahkan dirimu-- yang pernah dengan serius datang ke rumahku; menemui kedua orang tuaku dan berani penuh meminangku, menanggung lahir batinku, dosa-dosaku, juga tanggung jawabku. Dan, semua itu adalalah pilihanku. Aku tidak mungkin menyesali apa yang telah aku pilih, karena kamu adalah "keputusanku". Keputusan yang pernah membawaku dalam ke-halal lan yang pernah wanita muda itu impi...

Bintang Terangku

Sudah hampir satu tahun aku kehilanganmu. Kehilangan sesosok laki-laki yang sudah ku kenal sejak lama, bahkan jiwanya pun sudah menyatu dalam ragaku. Bagaimana aku melupakannya, jika bersamamu adalah hal yang paling indah ; tak pernah aku temui sebelumnya? Ajari aku agar aku bisa melupakanmu, melupakan senyum lagi, yang bahwa kenyataannya aku sudah kehilanganmu selamanya. Kau hanya meninggalkan namamu di atas batu nisan. Kau selalu berkata, jika aku merindukanmu, lihatlah ke atas langit, jika ada bintang paling terang itulah aku yang sedang tersenyum di surga. Sudah hampir sebulan ini, hujan terus menyelimutiku setiap malam. Sehingga aku tak bisa melihat senyuman kamu dari atas balkon ini. Aku tak bisa merasakan kehadiran kamu lagi. Membuat rindu begitu merasuk dalam jiwaku, mengganggu, menyiksaku-- membuat aku lelah untuk menemukanmu.  Hari esok adalah hari pernikahanku, dan itu yang aku harus hadapi. Dia melamarku tiga bulan yang lalu, d ia anak dari teman Ayahku....

Kamu dan Hujan

S aya pernah menutup pintu rapat-rapat untuk banyak laki-laki. Tapi bertemu denganmu adalah kebahagiaan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Kebahagiaan untuk menyukai dan menyayangi seseorang lagi. Anda hadir seperti sebait doa yang pernah saya tenggelamkan dalam laut. Tapi, dengan tiba-tiba Tuhan menghadirkan kembali melewati Anda. Anda memberikan suasana, kebersamaan, pelangi dan warna baru yang pernah saya hapus karena lara yang pernah timbul dihati ini. Saya tidak tahu apa tujuan Tuhan menghadirkan sosok sepertimu di dinding kehidupan saya. Tapi yang saya tahu sejak kehadiran Anda, kehampaan saya hilang seperti terbawa ombak di laut, bahkan pasirpun tak dapat menyisakan ampas . Karena ombak telah membawanya pergi. Hujan, menjadi teman awal pertemuan kita. Saya yakin jika hujan turun, dia akan membawamu ke dalam nama saya. Saya akan menyimpan nama saya dalam hujan, sehingga jika dia datang Anda akan selalu mengingat saya. Saya bahagia bersama hujan jika disana juga ada ...

Assalamu'alaikum Yaa Ramadhan

Allah menciptakanmu dengan sempurna, di dalamnya penuh dengan keberkahan. Umat muslim mana yang tidak menunggu kedatanganmu. Mereka begitu sangat bahagia dan antusias untuk bertemu denganmu. Satu bulan, ya, ku kira itu waktu yang sebentar. Mengapa kau tak lama singgah? Sebenarnya aku ingin berlamaan bersamamu, tapi Allah hanya mengizinkan untuk satu bulan yang indah itu. Kami bergandengan tangan untuk menyambutmu. Begitu sangat bahagianya hatiku, bukan, tapi kami yaitu orang-orang muslim yang beriman pada rukun islam ke-empat itu. Terima kasih untuk Allahku, Engkau Maha Indah telah mempertemukan lagi aku dengannya, bulan yang Indah yaitu Bulan Suci Ramadhan. Aku menyambutmu dengan lembut, "Assalamu'alaikum, Yaa Ramadhan". Semoga Allah memberikan Rahmat dan Berkahnya kepada umat muslim di dunia untuk kehadiranmu itu. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Saudaraku. -Salam dari Naina saudari muslim Indonesia

Untuk Mawar Merah yang Layu

Dulu, setangkai mawar merah selalu menyambut mentariku di pagi hari, mengembang mekar merah seakan tersenyum padaku, “Semangat untuk hari ini!” . Tak pernah dia membiarkan aku sendiri, menepis dinding hari-hariku. Bebanku ringan, pundakku tak seberat dulu. Aku tahu dia mencintaiku. Dia menghapus tangisku, dia tak pernah membiarkan air mata ini menggenang dipipiku. Dia ada, saat aku mulai lelah menggenggam mimpi. Dia hadir menjadi pundak untuk menopang lelahku. Piluku hilang, senyuman lebar menghias bibirku lagi, “Jangan sedih, bunga mawarnya lesu, nih!” . Aku tahu dia mencintaiku. Rasa itu masih tetap sama, tak lebih dari sekedar bunga mawar kuning. Kau pernah memohon untuk lebih dari itu. Siapa yang tahu hati seseorang, itu berat ketika harus berbohong bahwa aku mencintaimu juga, tetapi nyatanya berbanding terbalik. Aku tak seburuk itu. Hatimu tak terbalaskan. Ya, kau mulai mengerti itu, bahwa hati tak bisa dipaksakan. Dan bunga mawar kuningku tak akan pernah bisa menjadi mawar m...

Di bawah Kebahagiaanmu (3)

Menemukannya adalah kebahagiaan, mencintainya adalah anugerah. Nanti kau akan tahu apa sebabnya aku membuat statement seperti itu.  "Sudah, jangan kau terus meminum ini, kau tidak sayang pada dirimu sendiri?", katanya seperti merengeh kepadaku. Aku merangkulnya, sambil ku jatuhkan isi yang ada di dalam botol minuman kerasku yang sedang ku genggam. "Bagaimana kau bisa menyayangiku, jika kau tak menyayangi dirimu sendiri. Hidupmu berharga, kau mau minuman keras ini menggerogoti tubuhmu.", wajahnya berubah menjadi sendu. Aku menghentikan langkahku. "Ijinkan aku meminum ini sampai pernikahannya datang. Aku mohon!" Dia hanya menggelengkan kepalanya. "Ijinkan itu untuk kebahagiaanku. Please!" Dengan murung dia meng-ya-kan.  ******** Kebahagiaan, kau akan merasa nyaman, tenang, damai, seperti berayun di bawah pohon rindang, yang dihiasi musim semi bertaburan. Tidak merasakan beban, bahkan bungapun tersenyum memekar padamu. Kal...

Sahabat "Katak-ku"

Aku sudah menunggu lama, bertahun tahun, berbulan bulan, berhari hari untuk bertemu denganmu kembali. Bagaimana rupamu sekarang? Apa setampan dulu atau sebaliknya. Aku rindu saat kita bermain bersama, berbagi permen, es krim yang kita punya seperti sepuluh tahun yang lalu. Bagiku detik-detik menuju pertemuan kita ini seperti berabad abad tahun, aku kesepian tanpa kehadiranmu dan tanpa candamu setiap waktunya. Katanya kau sekarang sudah berubah menjadi dewasa, kau lebih bisa merawat penampilanmu. Tidak seperti dulu, kau masih terlihat lugu dan polos dengan bertumpuk berbagai buku di tanganmu. Pertemuan awal setelah sekian lama tak jumpa, di bandara itu. Aku melangkah kegirangan dari rumah, sudah kutata dengan rapih sesempurna mungkin tampilanku dengan bando merah yang menambah keindahan rambutku yang terurai panjang ikal. Oh Tuhan, betapa sangat berdebarnya jantung ini lebih dari biasanya. Seperti akan bertemu dengan sang kekasih yang sudah lama tak pernah jumpa. Walaupun nyatanya ...

Moccacino (Jadilah Inspirasi)

Selalu ada alasan untuk "stay chat with you ", bukan karena egoku yang kuat tapi tutur katamu yang memikat. Caramu memperlakukan medsos membuat aku mengerti bahwa kau wanita seperti apa. Menciptakan inspirasi tanpa menggurui, berkreasi tanpa menghakimi, tanpa mengeluh dalam setiap masalah, mengatasinya dengan cara yang   mereka tidak mengerti.  Mengagumimu adalah keberuntungan. Tiada kata yang pantas untuk menggambarkan posisi kita, kau dan aku selain kata “Dede“   cantik dan Kakak, ya .. Adik yang terlahir dari janin yang berbeda, adik tempat berbagi cerita yang mungkin orang lain tidak bi sa mendapatkannya, dan   adik yang selalu ceria dalam setiap suasana. Jika aku baik untuknya, semoga bukan hanya karena Allah menutupi kejelekkanku, pun sebaliknya, dia baik karena memang begitu. Saling mendoakan dalam kebaikan, dan saling mengingatkan dalam kekeliruan. Jadilah inspirasi dengan setiap warna yang kau lukiskan dalam setiap tulisan. Jangan pernah memudar me...

Untuk Kebahagiaan

Mereka masih bersama-sama bercanda tawa lepas bahagia, seperti Adam dan Hawa saat pertama bertemu melepas rindu yang sudah lama menahan sesak di dalam dadanya. Detik, menit, jam dan waktupun sudah bergulir sangat cepat, rasa mereka semakin hari semakin bertambah , bahkan tahun menahun sudah mereka hempaskan bersama. Rama sudah seperti Rima, dan Rima sudah seperti Rama. Bahkan mereka lupa sejak kapan sudah saling mencintai satu sama lain. Rama sudah menjadi kekurangan Rima, dan Rima sudah menjadi kelebihan Rama, dan mereka tahu bahwa itu adalah cinta yang saling melengkapi. Senja itu, seorang sahabat mengajak Rama untuk bertemu kekasihnya. Semuanya terlihat masih baik-baik, Rama berdandan sangat rapih, dia poleskan gel di rambutnya, dan dibelinya setangkai mawar putih, berharap menambah suasana romantis pada malam mi n ggu itu. Terlihat ramai keluarganya, bekas piring dan makanan bergelatak di mana saja. Rama menemui Rima di belakang rumahnya.  “Ada apa? Apa yang telah t...

Kedatangan Laki-Laki Itu (Di Bawah Kebahagiaanmu)

Aku berjalan di tengah musim salju yang mulai berganti, dan sepertinya dia sudah lelah membasahi mantelku ini. Lamunanku lurus ke jalan yang masih enggan di ramaikan oleh banyak orang. Fikiranku masih terjerumus pada wanita keras kepala itu, wanita yang tadi aku temui di depan minimarket. Genggaman tangannya yang erat dengan laki-laki itu masih teringat jelas.   “Hi, Tiger! Ini....”, katanya seperti gugup.   “Ya, ada yang ingin kamu jelaskan?”, kataku berusaha santai.   “Dia sudah kembali. Apa menurut kamu ini suatu hal yang menggembirakan?”      “Tentu. Lalu..”, kataku dengan santai.               “Aku akan menikah dengannya bulan depan.” Aku terdiam seperti terpaku pada keadaan. Aku menatapnya tajam, dia menundukkan kepalanya. Aku tahu dia berat mengatakan ini, aku tahu dia sudah mulai menyukaiku, aku tahu.. dan seharusnya tidak pernah terjadi. Aku sepert...

Di Ujung Stasiun (Di Bawah Kebahagiaanmu)

Raut wajahnya kini sudah berubah, dulu dia selalu ceria, bahkan bintangpun iri padanya. Dia selalu menunggu laki-laki itu di ujung stasiun, berharap kereta malam membawakan kekasihnya yang sudah dia tunggu disetiap musim yang berlalu. Aku selalu menemaninya di sini setiap tepat pukul 7.10 PM.  Dia selalu tersenyum ketika kepala kereta sudah terlihat oleh matanya dari kejauhan. "Lihat, kali ini dia pasti datang!", katanya kegirangan. Aku tahu, dia pasti tidak datang. Harapanmu sirna lagi kali ini, tidak, aku salah, sudah berulang-ulang kali harapanmu sirna. Mengapa kau tak melihat aku di sini, aku juga seorang kekasih yang selalu ada denganmu, menemanimu, menghiburmu, bahkan rela mengantarmu ke stasiun ini hanya untuk menyakiti hatiku sendiri. Aku tak mau memanggilmu "Jahat!", karena aku tahu ini adalah keputusanku, dan ini yang aku inginkan. Keinginan yang akan membuat aku dicaci banyak orang, "Lelaki bodoh, memang tak ada wanita lain!". Bukankah ...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...