Baiklah, aku akan pergi.
Aku menyerah, aku langkahkan
kakiku dari tempat dimana kamu berdiri.
Simpanlah aku dalam
untaian-untaian do’amu.
Sebutlah dan rasakan namaku
dalam fikiranmu.
Biarkalah aku tetap ada,
teman.
Simpan dan kuburlah dalam
peti hatimu; masa-masa indah yang pernah kita maknai.
Hubungi aku jika kau
merindukanku, satu atau dua kali dalam setahun.
Biarkanlah aku sesekali
menjadi seliran fikiranmu, walaupun namanya yang selalu menggema dalam
fikiranmu.
Biarkanlah aku tetap ada,
teman.
Telah aku ambil sihir
kegelapanmu.
Dan kugantikan kau dengan
bintang benderang yang aku miliki di atas namamu.
Biarlah aku tetap ada,
teman.
Jika aku tak hadir dalam
hari kebahagiaanmu.
Jangan pernah kau teteskan
kesedihanmu.
Karena do’a terbesarku
selalu aku bubuhkan di atas namamu.
Kisah-kisah kedekatan kita
tak bisa terhitung oleh jari.
Begitu seringnya kita
membagi waktu dalam pagi hingga petang memanggil; kuhabiskan bersamamu di
halaman-halaman hari kita.
Biarkanlah aku tetap ada,
teman.
Sekarang, aku pergi
mengalihkan langkahku dari wajahmu.
Aku sisakan keharumanku
dalam bait syairku.
Akan aku simpan baik-baik
kumpulan hatiku di bawah mimpimu.
Biarkanlah aku tetap ada,
teman.
(Inspiration of film Ae dil
hai mushkil)
Komentar
Posting Komentar