Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Kau yang Dirantau 2

Kali ini rindunya terbalaskan, setelah sekian lama entah mungkin berjutaan waktu wanita itu menunggu lelakinya datang menginjak tanah kelahirannya. Suara gemuruh angin pantai sudah tercium dari kejauhan, wanita itu melangkah dengan riangnya dengan segudang kebahagiaan dihatinya. Siapa yang tidak bahagia, ketika rindu yang kita pendam dalam dalam terluapkan, seperti mendapatkan mutiara dalam laut yang dalam. Bersama semangatnya dia melangkah ke dermaga yang tempatnya tak jauh dari tempat huninya, dengan senyuman lebar dia melihat kepala kapal dari kejauhan, dia sudah merasakan kehadiran sosok lelakinya yang selama ini dia tunggu. Ditengah ratusan orang yang turun dia mencari sang pujaan hatinya, melengak lengok ke kanan dan kekiri sambil berjalan. Tiba tiba hatinya tersendak, dia merasakan kalau lelakinya berada dibelakannya. Ketika membalikan badan, ya itu benar. Tanpa melihat orang disekitar wanita itu langsung memeluknya dengan erat. Dalam hatinya merasakan getaran yang begitu ...

Berjalan Pergi

Kita yang sudah terlihat berjauhan. Dan kita sudah berjalan ke arah yang berbeda. Kita sudah mempunyai kebahagiaan masing masing, dan itu mungkin hanya fikiranku. Tapi tidak untukmu. Kamu sudah terjatuh, dan seorang pria berusaha membangkitkanmu. Nyatanya itu bernilai Nol Besar. Aku bisa lihat itu ketika aku menatap matamu jelas di bola mataku.  Pandangan satu tahun lalu, yang ku kira itu waktu yang cukup lama. Kamu masih menyimpan hal hal yang seharusnya patut untuk dimusnahkan. Tapi kamu masih saja menyimpan dengan baik disatu tempat dihati dan fikiranmu. Apa hal yang tak bisa kamu lupakan dariku Nona? Aku sama seperti pria lainnya. Apa aku sesempurna itu? Katanya hanya aku yang bisa membuatmu bahagia, yang membuatmu bangkit dari terjatuhnya impian, dan katanya hanya aku yang bisa membuat duniamu indah lagi.  Maafkan aku Nona, aku tak bisa untuk menyentuh hidupmu lagi. Aku sudah berjalan dengannya bahkan kita sudah berdampingan. Waktu itu nyatanya kamu bisa berjalan ...

Sahabatmu Part 2

Terlihat bulan penuh memekar, cahayanya yang memantul kemataku memancarkan keindahan yang tak pernah tertidur lelap dalam setiap malam. Angin sepoy-sepoy yang berhembus melambaikan daun-daun yang terlihat di depan mataku seperti mereka ingin membisikkan sesuatu "Kamu harus tetap baik baik!". Benar, malam itu aku seakan dilanda ribuan kegelisahan yang sedang meraja di hatiku. Lagi lagi tentang dia, tak tahu kenapa fikiran negatif yang selalu menempel di otakku ketika lelakiku menyebutkan nama wanita itu. Ya, Sahabatnya! Tak pernah bosan dia menyanjung nama wanita itu dibibirnya, "Si Wanita Mengagumkan". Hebat! Tak ada lelahnya pujian itu dicibirkan. Aku telan ludahku dalam dalam dengan penuh kejengkelan, "Sudah sudah!". Berharap nama yang mengiang ditelingaku itu segera usai diceritakan. Aku tahu Tuan, aku kira wanita itu lebih baik dariku. Wanita yang katanya terlihat anggun, ucapannya yang selalu menenangkan hatimu dengan kedewasaanya dan dia yang se...

Bunga Mawar

Sudah lama laki laki itu mengincarnya, entah mungkin tak bisa terhitung waktu. Laki laki yang gemar membaca hampir larut malam diperpustakaan yang selalu bergulat dengan buku buku, tetapi dia masih saja sempat mencuri perhatian dambaan hatinya, yaitu wanita yang rambutnya selalu terurai panjang yang tiada hari tanpa lepas dari bando pita dan kacamatanya yang besar. Diperpustakaan itu mereka sering bersenda gurau, membagi cerita buku yang mereka baca. Dan mereka mempunyai kegemaran yang sama yaitu bergulat dengan buku buku. Sampai dipenghujung waktu laki laki itu tak bisa bertahan atas perasaannya, rasanya mungkin sudah setumpuk gudang hingga tak mampu lagi dia bendung. Dan akhirnya waktu itu datang, waktu dimana dia selalu menunggu dalam setiap desiran nafasnya yaitu menyatakan perasaan. Malam itu dengan digenggamnya seikat bunga mawar dia berdandan rapi, memakai wewangian agar terasa PD. Dengan kemeja kotak kotak berwarna merah dia datang kesebuah restoran. Ternyata dambaan hatin...

Kau yang Dirantau

Bersama datangnya senja, burung burung beterbangan diatas lautan biru seakan meninggalkan lelahnya siang mencari makan. Wanita itu terlihat pilu disisi pantai merasakan indahnya suasana senja saat itu. Rupanya dia menunggu sang kekasih yang jauh dirantau, menunggu akan kehadiran disisinya kembali. Seribu kerinduan selalu dia telan dalam dalam, dan dia simpan di dinding hati berharap rindu yang menjadi pilu itu segera terobati. Angin yg berhembus dari laut, mengayun ayunkan rambutnya yang terurai panjang. Dia masih menatap laut dengan mata sendu, membayangkan betapa indahnya lautan kebahagiaan saat sang kekasih berada disisinya, diapun tersenyum kecil. Dia teringat kata kata yang bertelaga madu dari bibir sang kekasih dengan segenggam bunga mawar merah yang selalu membuatnya tersenyum lebar dan sebentuk es krim yang menambah kemanisan ditengah keromansaan setiap kejadian. Bunga mawar yang dia berikan kini sudah tak berbentuk, entah sudah berapa lama pria itu meninggalkannya sampai bu...

Pemeran Hatiku

Ditengah malam ini bersama dengan turunnya ribuan tetesan air hujan membawaku menembus dinding kerinduan. Sejuta kerinduan yang berputar pada lautan masa lalu yaitu seseorang yang pernah sempat singgah dihati ini, yang pernah merasuk kedalam jiwa ini dan pernah berusaha menjadi pemeran hatiku yang terbaik seperti yang aku inginkan. Dia seorang pria berkulit putih, bermata sipit seperti orang campuran chinese dan jawa. Kata katanya yang penuh dengan kelembutan dan tingkah lakunya dengan segudang kasih sayang membawaku selalu dalam langit kebahagiaan. Tak pernah sedikitpun dia berlaku menyakitiku, mengecewakanku bahkan dia selalu menjaga air mataku agar tidak satupun menetes dimata indahku. Tapi hari itu, dimana keegoisanku menjelma dalam diriku. Sehingga aku terperangkap dalam hubungan penghianatan yang membuatku terjatuh dalam lubang kesalahan. Tidak satupun kau mau mendengar apa yang inginku jelaskan, kau tolak mentah mentah. Dan akhirnya kamu memilih menggerakan kaki berjalan perg...

Sahabatmu

Menjalani suatu hubungan itu bukan hal yang mudah, perlu ditanamkan sebuah kepercayaan dan kejujuran. Awalnya aku hanya anggap itu hal biasa dan sewajarnya, kau pria yang selama ini ku miliki bersahabat karib dengan seorang wanita, yang entah bagaimana sosoknya akupun tidak mengetahui. Aku hanya bisa melihatnya difoto melalui jejaring sosial, dan aku sempat beberapa kali memperhatikan bagaimana kedekatan mereka di dunia maya. Aku tak menyangka hal itu begitu sangat membakar hatiku. Ya, aku akui aku cemburu. Aku mengerti Tuan, kau hanya menganggapnya sahabat karib yang hanya sebagai tempat berbagi cerita suka dan duka. Apa akan selalu seperti itu bertahan lama? Aku rasa tidak, setelah aku lihat gurauan kamu dengannya di dinding akunmu. Apalagi kamu tahu kalau dia sempat mengagumimu.  Hubungan kita bukan hanya satu atau dua tahun, beribu hari pernah kita lewati. Tapi semenjak kedatangannya, aku tak melihat diri kamu yang pernah aku kenal, bahkan perhatianmu mengurang. Aku semp...