Langsung ke konten utama

LDR (Long Distance Relationship)

Pertemuan adalah sesuatu yang amat dirindukan, ketika jarak dan dinding waktu menghalangi tatap kita. Malam dan pagi adalah rotasi yang selalu ditunggu, karena semakin cepat waktu berputar, pertemuan kita semakin dekat; mata dan mata saling menatap, jemari yang saling menggenggam erat, berayun manja ditepi pantai-- bersama vespa kesayanganmu. Tak ada yang aku sangat rindukan malam ini, kecuali hamparan ombak yang menemani kita disetiap pertemuan, membawa romansa malam semakin manis. Ketika sandaran paling hangat aku rasakan berada dipundakmu, sambil kau mengusap kepalaku; katanya kau paling senang membelai rambutku. Ya, rambut yang tergerai panjang ini.
Aku rindu, senyuman simetrismu ketikakau menyambutku turun dari bus yang berasal dari Kota Kembang. Kau mengambil tanganku untuk kau genggam, seakan kau tak membiarkanku untuk pergi lagi. Satu kalimat yang selalu menyapa disetiap awal pertemuan itu, “Aku merindukanmu!”. Itu menyentuh hatiku, sesak haru dadaku—karena aku bahagia melihat sesosok laki-laki yang sangat aku cintai-- masih menggenggam kemasan hati dan menjaganya dengan baik.
Ponsel menjadi pemeran utama kita, saat jarak tak inginkan kita bersama. Beradu lewat suara menjadi obat sementara, ya, tentunya obat rindu. Rindu yang selalu mengganggu disetiap malam; saat bintang yang hanya bisa menemani. Lamunan menjadi penghibur hati; saat aku rindu tawa dan senyuman lebarmu. Suara ponselku menjadi penyemangat hariku disetiap pagi, karena kabarmu yang selalu kutunggu.
Tetaplah berdiri di sana, walau jarak kota dan kota membatasi kita, ketika ruang semakin menjauh, ketika bersama adalah hal yang sangat kita rindukan. Tapi, percayalah, waktu pertemuan kita akan datang, walaupun “menunggu” adalah hal yang menyebalkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...