Pertemuan adalah sesuatu yang
amat dirindukan, ketika jarak dan dinding waktu menghalangi tatap kita. Malam
dan pagi adalah rotasi yang selalu ditunggu, karena semakin cepat waktu
berputar, pertemuan kita semakin dekat; mata dan mata saling menatap, jemari
yang saling menggenggam erat, berayun manja ditepi pantai-- bersama vespa
kesayanganmu. Tak ada yang aku sangat rindukan malam ini, kecuali hamparan
ombak yang menemani kita disetiap pertemuan, membawa romansa malam semakin
manis. Ketika sandaran paling hangat aku rasakan berada dipundakmu, sambil kau
mengusap kepalaku; katanya kau paling senang membelai rambutku. Ya, rambut yang
tergerai panjang ini.
Aku rindu, senyuman simetrismu
ketikakau menyambutku turun dari bus yang berasal dari Kota Kembang. Kau
mengambil tanganku untuk kau genggam, seakan kau tak membiarkanku untuk pergi
lagi. Satu kalimat yang selalu menyapa disetiap awal pertemuan itu, “Aku
merindukanmu!”. Itu menyentuh hatiku, sesak haru dadaku—karena aku bahagia
melihat sesosok laki-laki yang sangat aku cintai-- masih menggenggam kemasan
hati dan menjaganya dengan baik.
Ponsel menjadi pemeran utama
kita, saat jarak tak inginkan kita bersama. Beradu lewat suara menjadi obat
sementara, ya, tentunya obat rindu. Rindu yang selalu mengganggu disetiap
malam; saat bintang yang hanya bisa menemani. Lamunan menjadi penghibur hati;
saat aku rindu tawa dan senyuman lebarmu. Suara ponselku menjadi penyemangat
hariku disetiap pagi, karena kabarmu yang selalu kutunggu.
Tetaplah berdiri di sana, walau
jarak kota dan kota membatasi kita, ketika ruang semakin menjauh, ketika
bersama adalah hal yang sangat kita rindukan. Tapi, percayalah, waktu pertemuan
kita akan datang, walaupun “menunggu” adalah hal yang menyebalkan.
Komentar
Posting Komentar