Langsung ke konten utama

Di Ujung Stasiun (Di Bawah Kebahagiaanmu)

Raut wajahnya kini sudah berubah, dulu dia selalu ceria, bahkan bintangpun iri padanya. Dia selalu menunggu laki-laki itu di ujung stasiun, berharap kereta malam membawakan kekasihnya yang sudah dia tunggu disetiap musim yang berlalu. Aku selalu menemaninya di sini setiap tepat pukul 7.10 PM. 
Dia selalu tersenyum ketika kepala kereta sudah terlihat oleh matanya dari kejauhan.
"Lihat, kali ini dia pasti datang!", katanya kegirangan.

Aku tahu, dia pasti tidak datang. Harapanmu sirna lagi kali ini, tidak, aku salah, sudah berulang-ulang kali harapanmu sirna. Mengapa kau tak melihat aku di sini, aku juga seorang kekasih yang selalu ada denganmu, menemanimu, menghiburmu, bahkan rela mengantarmu ke stasiun ini hanya untuk menyakiti hatiku sendiri. Aku tak mau memanggilmu "Jahat!", karena aku tahu ini adalah keputusanku, dan ini yang aku inginkan. Keinginan yang akan membuat aku dicaci banyak orang, "Lelaki bodoh, memang tak ada wanita lain!". Bukankah cinta terkadang membuat orang terlihat bodoh, bahkan ada orang yang rela menyakiti dirinya sendiri hanya untuk membahagiakan orang terkasihnya, termasuk aku. Aku selalu tertarik apapun itu untuk kebahagiaannya, apapun itu. Entah sihir apa yang wanita keras kepala itu tancapkan padaku. Ya, memang dia agak keras kepala yang terkadang membuat aku jengkel, tapi apa kau tahu, aku sangat menyayanginya.

Dia berbalik ke arahku setelah mencari laki-lakinya di tengah keramaian penumpang yang naik, dan  turun dari kereta itu. Air matanya berlinang lagi, entahlah aku selalu marah pada diriku jika air matanya keluar dari mata sayunya. Aku sangat benci air mata itu.
"Dia pasti datangkan besok?", matanya penuh harap.
"Aku semogakan.", kataku mengangguk.
"Terima kasih, Tiger. Aku menyayangimu."
Dia sematkan kepalanya dipundakku dan berjalan sambil menggandeng tangan kiriku. Aku menyeka air matanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...