Raut wajahnya kini sudah berubah, dulu dia selalu ceria, bahkan bintangpun iri padanya. Dia selalu menunggu laki-laki itu di ujung stasiun, berharap kereta malam membawakan kekasihnya yang sudah dia tunggu disetiap musim yang berlalu. Aku selalu menemaninya di sini setiap tepat pukul 7.10 PM.
Dia selalu tersenyum ketika kepala kereta sudah terlihat oleh matanya dari kejauhan.
"Lihat, kali ini dia pasti datang!", katanya kegirangan.
Aku tahu, dia pasti tidak datang. Harapanmu sirna lagi kali ini, tidak, aku salah, sudah berulang-ulang kali harapanmu sirna. Mengapa kau tak melihat aku di sini, aku juga seorang kekasih yang selalu ada denganmu, menemanimu, menghiburmu, bahkan rela mengantarmu ke stasiun ini hanya untuk menyakiti hatiku sendiri. Aku tak mau memanggilmu "Jahat!", karena aku tahu ini adalah keputusanku, dan ini yang aku inginkan. Keinginan yang akan membuat aku dicaci banyak orang, "Lelaki bodoh, memang tak ada wanita lain!". Bukankah cinta terkadang membuat orang terlihat bodoh, bahkan ada orang yang rela menyakiti dirinya sendiri hanya untuk membahagiakan orang terkasihnya, termasuk aku. Aku selalu tertarik apapun itu untuk kebahagiaannya, apapun itu. Entah sihir apa yang wanita keras kepala itu tancapkan padaku. Ya, memang dia agak keras kepala yang terkadang membuat aku jengkel, tapi apa kau tahu, aku sangat menyayanginya.
Dia berbalik ke arahku setelah mencari laki-lakinya di tengah keramaian penumpang yang naik, dan turun dari kereta itu. Air matanya berlinang lagi, entahlah aku selalu marah pada diriku jika air matanya keluar dari mata sayunya. Aku sangat benci air mata itu.
"Dia pasti datangkan besok?", matanya penuh harap.
"Aku semogakan.", kataku mengangguk.
"Terima kasih, Tiger. Aku menyayangimu."
Dia sematkan kepalanya dipundakku dan berjalan sambil menggandeng tangan kiriku. Aku menyeka air matanya.

Komentar
Posting Komentar