Langsung ke konten utama

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu.

Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan?

Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu sudah datang menyapamu lagi dan juga menjemputmu dengan kuda putihnya. Bukankah itu yang kamu impikan? Seharusnya aku patut untuk bahagia melihatnya, orang yang aku sangat cintai bisa bersama dengan kekasih yang sangat amat mencintainya. Walaupun sedikit berat, tidak, aku ulangi! Walaupun itu sangat berat ku rasakan, tapi demi polesan senyuman di bibir manismu, aku rela itu terjadi.

Lihat, sekarang kamu datang dengan gaun indah yang menutupi badanmu. Senyum manismu menyapa ke dua mataku. Aku terhanyut melihatnya, dulu senyum itu adalah milikku.
"Apa kau bahagia sekarang?",tanyaku yang sedang menahan butir-butir air mata terjatuh.
"Sangat, sangat bahagia, Tigerku! Terima kasih. Aku menyayangimu.", dia memeluk erat tubuhku, dan mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Apa aku harus bahagia, Tuan Puteri?", kataku dalam pelukannya. Air mataku akhirnya terjatuh juga. 
Dia hanya menganggukan kepalanya untuk mengiyakan. 
Dan dari atas balkon ini, aku melihat dia pergi bersama laki-laki pilihannya, laki-laki yang katanya sudah sangat dia rindukan sejak lama. Laki-laki yang telah hadir pertama sebelum aku mengenalnya, dan akan menjadi yang terakhir dihatinya. Akhirnya impianmu terwujud, walaupun sempat kamu menjadikan aku tempat persinggahanmu untuk menemui jalannya. Tapi aku rasa itu indah, walaupun sedikit menyakitkan. Jangan pernah lupa kalau aku ada, dan pernah membahagiakanmu. Kini aku titipkan kau pada-NYA, aku yakin Tuhan akan lebih bisa menjadi Tigermu, melebihi aku. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kebahagiaan

Mereka masih bersama-sama bercanda tawa lepas bahagia, seperti Adam dan Hawa saat pertama bertemu melepas rindu yang sudah lama menahan sesak di dalam dadanya. Detik, menit, jam dan waktupun sudah bergulir sangat cepat, rasa mereka semakin hari semakin bertambah , bahkan tahun menahun sudah mereka hempaskan bersama. Rama sudah seperti Rima, dan Rima sudah seperti Rama. Bahkan mereka lupa sejak kapan sudah saling mencintai satu sama lain. Rama sudah menjadi kekurangan Rima, dan Rima sudah menjadi kelebihan Rama, dan mereka tahu bahwa itu adalah cinta yang saling melengkapi. Senja itu, seorang sahabat mengajak Rama untuk bertemu kekasihnya. Semuanya terlihat masih baik-baik, Rama berdandan sangat rapih, dia poleskan gel di rambutnya, dan dibelinya setangkai mawar putih, berharap menambah suasana romantis pada malam mi n ggu itu. Terlihat ramai keluarganya, bekas piring dan makanan bergelatak di mana saja. Rama menemui Rima di belakang rumahnya.  “Ada apa? Apa yang telah t...

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Bintang Terangku

Sudah hampir satu tahun aku kehilanganmu. Kehilangan sesosok laki-laki yang sudah ku kenal sejak lama, bahkan jiwanya pun sudah menyatu dalam ragaku. Bagaimana aku melupakannya, jika bersamamu adalah hal yang paling indah ; tak pernah aku temui sebelumnya? Ajari aku agar aku bisa melupakanmu, melupakan senyum lagi, yang bahwa kenyataannya aku sudah kehilanganmu selamanya. Kau hanya meninggalkan namamu di atas batu nisan. Kau selalu berkata, jika aku merindukanmu, lihatlah ke atas langit, jika ada bintang paling terang itulah aku yang sedang tersenyum di surga. Sudah hampir sebulan ini, hujan terus menyelimutiku setiap malam. Sehingga aku tak bisa melihat senyuman kamu dari atas balkon ini. Aku tak bisa merasakan kehadiran kamu lagi. Membuat rindu begitu merasuk dalam jiwaku, mengganggu, menyiksaku-- membuat aku lelah untuk menemukanmu.  Hari esok adalah hari pernikahanku, dan itu yang aku harus hadapi. Dia melamarku tiga bulan yang lalu, d ia anak dari teman Ayahku....