Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu.
Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan?
Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu sudah datang menyapamu lagi dan juga menjemputmu dengan kuda putihnya. Bukankah itu yang kamu impikan? Seharusnya aku patut untuk bahagia melihatnya, orang yang aku sangat cintai bisa bersama dengan kekasih yang sangat amat mencintainya. Walaupun sedikit berat, tidak, aku ulangi! Walaupun itu sangat berat ku rasakan, tapi demi polesan senyuman di bibir manismu, aku rela itu terjadi.
Lihat, sekarang kamu datang dengan gaun indah yang menutupi badanmu. Senyum manismu menyapa ke dua mataku. Aku terhanyut melihatnya, dulu senyum itu adalah milikku.
"Apa kau bahagia sekarang?",tanyaku yang sedang menahan butir-butir air mata terjatuh.
"Sangat, sangat bahagia, Tigerku! Terima kasih. Aku menyayangimu.", dia memeluk erat tubuhku, dan mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Apa aku harus bahagia, Tuan Puteri?", kataku dalam pelukannya. Air mataku akhirnya terjatuh juga.
Dia hanya menganggukan kepalanya untuk mengiyakan.
Dan dari atas balkon ini, aku melihat dia pergi bersama laki-laki pilihannya, laki-laki yang katanya sudah sangat dia rindukan sejak lama. Laki-laki yang telah hadir pertama sebelum aku mengenalnya, dan akan menjadi yang terakhir dihatinya. Akhirnya impianmu terwujud, walaupun sempat kamu menjadikan aku tempat persinggahanmu untuk menemui jalannya. Tapi aku rasa itu indah, walaupun sedikit menyakitkan. Jangan pernah lupa kalau aku ada, dan pernah membahagiakanmu. Kini aku titipkan kau pada-NYA, aku yakin Tuhan akan lebih bisa menjadi Tigermu, melebihi aku.
Komentar
Posting Komentar