Langsung ke konten utama

Sentilan Hati

Namanya juga hati; mudah rapuh, mudah meleleh, mudah mencair kalau disakiti. Aku pernah sangat bahagia, dulu, saat kau simpan aku di hati dari sebelah hati, dan aku pernah menjadi orang yang mungkin sangat menyakiti dan membuat dengki hati seseorang. Dan sekarang, aku merasakan hal yang sama. Mungkin ini sentilan bagiku, saat aku ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik, manusia adem ayem yang selalu  berusaha membuat nyaman hati seseorang. Kalau merasakan cemburu itu wajar, mudah dengki---wajar juga, karena aku punya rasa memiliki dia. Aku tak akan ceritakan dia siapa, karena aku rasa sudah berlipat-lipat aku gambarkan tentang dia. Bukan benci, tapi cinta juga punya titik kebosanan. Dan katanya kita harus mahir-mahir meng-upgrade ulang, memperbaharuinya. Tapi, apa bisa kita selalu bertepuk tangan sendirian, menunggu dia agar melakukan hal yang sama, sedangkan sorakan kita tak membuat dia tertarik. Kau bodoh, berjuang sendirian.
"Hahahaha..", aku dengar lawan bicaraku tertawa lebar.
"Tak ada yang harus ditertawakan.", kataku sedikit ketus.
"Itu, karma. Tenang, setidaknya kau sudah berusaha menjadi orang yang lebih baik, kau harus menekuninya dengan seksama, jangan mudah goyah. Kamu selalu tancapkan dalam dirimu sedari dulu..."
"Setidaknya kita selalu memberikan yang terbaik.", kataku meneruskan pernyataannya.
"Kau lupa dengan prinsipmu sendiri?", katanya sambil menyeruput orange juice yang hampir habis.
"Ya, aku ingat."
"Mey, kegelisahan itu datangnya dari hati, dan kau yang membuatnya sendiri.", kata dia menempelkan tangangnnya ke dadaku, suaranya halus seketika. Membuat aku terenyah dan terdiam.
"Benarkan?", kata dia seakan menegaskan.
Aku tersenyum dengan fikiran kosong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...