Namanya juga hati; mudah rapuh, mudah meleleh, mudah mencair kalau
disakiti. Aku pernah sangat bahagia, dulu, saat kau simpan aku di hati
dari sebelah hati, dan aku pernah menjadi orang yang mungkin sangat
menyakiti dan membuat dengki hati seseorang. Dan sekarang, aku merasakan
hal yang sama. Mungkin ini sentilan bagiku, saat aku ingin berubah
menjadi manusia yang lebih baik, manusia adem ayem yang selalu berusaha
membuat nyaman hati seseorang. Kalau merasakan cemburu itu wajar, mudah
dengki---wajar juga, karena aku punya rasa memiliki dia. Aku tak akan
ceritakan dia siapa, karena aku rasa sudah berlipat-lipat aku gambarkan
tentang dia. Bukan benci, tapi cinta juga punya titik kebosanan. Dan
katanya kita harus mahir-mahir meng-upgrade ulang, memperbaharuinya.
Tapi, apa bisa kita selalu bertepuk tangan sendirian, menunggu dia agar
melakukan hal yang sama, sedangkan sorakan kita tak membuat dia
tertarik. Kau bodoh, berjuang sendirian.
"Hahahaha..", aku dengar lawan bicaraku tertawa lebar.
"Tak ada yang harus ditertawakan.", kataku sedikit ketus.
"Itu, karma. Tenang, setidaknya kau sudah berusaha menjadi orang yang lebih baik, kau harus menekuninya dengan seksama, jangan mudah goyah. Kamu selalu tancapkan dalam dirimu sedari dulu..."
"Setidaknya kita selalu memberikan yang terbaik.", kataku meneruskan pernyataannya.
"Kau lupa dengan prinsipmu sendiri?", katanya sambil menyeruput orange juice yang hampir habis.
"Ya, aku ingat."
"Mey, kegelisahan itu datangnya dari hati, dan kau yang membuatnya sendiri.", kata dia menempelkan tangangnnya ke dadaku, suaranya halus seketika. Membuat aku terenyah dan terdiam.
"Benarkan?", kata dia seakan menegaskan.
Aku tersenyum dengan fikiran kosong.
Komentar
Posting Komentar