Langsung ke konten utama

Ini tentang keadaan

Aku seharusnya tahu diri bagaimana aku harus bersikap. Tapi, dengan dinginnya sikapmu, bahkan perhatian besarpun-- jika itu aku harapkan darimu, pada ujungnya akan menghasilkan nilai nol besar, bodoh. Aku, wanita yang sudah bersamamu bukan hanya satu atau dua tahun seperti hal nya anak-anak muda jaman sekarang yang sedang berombak dalam cinta. Aku sudah bersamamu selama 17 tahun.
​​
Aku tidak akan salahkan waktu, mungkin kita sudah melabuhi waktu yang sangat lama, sehingga titik kebosanan itu pasti datang, menggempal di otakmu dan mungkin dalam otakku juga. Aku juga tidak akan salahkan dirimu-- yang pernah dengan serius datang ke rumahku; menemui kedua orang tuaku dan berani penuh meminangku, menanggung lahir batinku, dosa-dosaku, juga tanggung jawabku. Dan, semua itu adalalah pilihanku. Aku tidak mungkin menyesali apa yang telah aku pilih, karena kamu adalah "keputusanku". Keputusan yang pernah membawaku dalam ke-halal lan yang pernah wanita muda itu impikan untuk mendapatkan ke-ridhoan Tuhan.

Ini mungkin salah egoku yang perasaan, yang setiap malam menangisi kedinginanmu. Mungkin kamu lebih dingin dari pada es, sehingga aku kehilangan romansa kebersamaan. Aku hanya seorang wanita yang paling bisa berkata, "tidak apa-apa", padahal ketidakapa-apaan itu-- mereka sembunyikan bertumpuk-tumpuk kegelisahan yang terjadi, aku yakin-- mungkin kamu tidak dapat memahaminya dengan mudah, tapi mereka meredamnya sendiri, keyakinan mereka besar; berharap semuanya akan baik-baik saja.

Ini tentang keadaaan, keadaan yang harus dan mampu kita lewati. Aku tak mau jika benang yang sudah kita pegang dengan kuat-- tiba-tiba terputus hanya untuk masalah hal seperti ini. Itu hal bodoh, labil sekali. Eratkan tetap benang ditanganmu, karena aku masih tetap meng-eratkan dengan kuat, jangan kau ulur lalu melepaskannya, karena bertahan pada pilihan-- tak semudah membalikkan telapak tangan. Jika kamu bosan, kau bisa ceritakan itu padaku, karena kita dipertemukan untuk melalui takdir yang sama, yang pernah kau buat dalam satu kalimat "ijab kabul", dan orang-orang disekeliling saat itu bersamaan berkata "sah". Indah bukan? Lihat aku, dekap aku, pahami aku, aku isterimu yang akan setia bersamamu sampai aku berkata, "Suamiku, Tuhan memanggilku untuk pulang.". Aku mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...