Aku
seharusnya tahu diri bagaimana aku harus bersikap. Tapi, dengan
dinginnya sikapmu, bahkan perhatian besarpun-- jika itu aku harapkan
darimu, pada ujungnya akan menghasilkan nilai nol besar, bodoh. Aku,
wanita yang sudah bersamamu bukan hanya satu atau dua tahun seperti hal
nya anak-anak muda jaman sekarang yang sedang berombak dalam cinta. Aku
sudah bersamamu selama 17 tahun.
Aku
tidak akan salahkan waktu, mungkin kita sudah melabuhi waktu yang
sangat lama, sehingga titik kebosanan itu pasti datang, menggempal di
otakmu dan mungkin dalam otakku juga. Aku juga tidak akan salahkan
dirimu-- yang pernah dengan serius datang ke rumahku; menemui kedua
orang tuaku dan berani penuh meminangku, menanggung lahir batinku,
dosa-dosaku, juga tanggung jawabku. Dan, semua itu adalalah pilihanku.
Aku tidak mungkin menyesali apa yang telah aku pilih, karena kamu adalah
"keputusanku". Keputusan yang pernah membawaku dalam ke-halal lan yang
pernah wanita muda itu impikan untuk mendapatkan ke-ridhoan Tuhan.
Ini mungkin salah egoku yang perasaan, yang setiap malam
menangisi kedinginanmu. Mungkin kamu lebih dingin dari pada es,
sehingga aku kehilangan romansa kebersamaan. Aku hanya seorang wanita
yang paling bisa berkata, "tidak apa-apa", padahal ketidakapa-apaan
itu-- mereka sembunyikan bertumpuk-tumpuk kegelisahan yang terjadi, aku
yakin-- mungkin kamu tidak dapat memahaminya dengan mudah, tapi mereka
meredamnya sendiri, keyakinan mereka besar; berharap semuanya akan baik-baik saja.
Ini tentang keadaaan, keadaan
yang harus dan mampu kita lewati. Aku tak mau jika benang yang sudah
kita pegang dengan kuat-- tiba-tiba terputus hanya untuk masalah hal
seperti ini. Itu hal bodoh, labil sekali. Eratkan tetap benang
ditanganmu, karena aku masih tetap meng-eratkan dengan kuat, jangan kau
ulur lalu melepaskannya, karena bertahan pada pilihan-- tak semudah
membalikkan telapak tangan. Jika kamu bosan, kau bisa ceritakan itu
padaku, karena kita dipertemukan untuk melalui takdir yang sama, yang
pernah kau buat dalam satu kalimat "ijab kabul", dan orang-orang
disekeliling saat itu bersamaan berkata "sah". Indah bukan? Lihat aku,
dekap aku,
pahami aku, aku isterimu yang akan setia bersamamu sampai aku berkata,
"Suamiku, Tuhan memanggilku untuk pulang.". Aku mencintaimu.
Komentar
Posting Komentar