Menemukannya adalah kebahagiaan, mencintainya adalah anugerah. Nanti kau akan tahu apa sebabnya aku membuat statement seperti itu.
"Sudah, jangan kau terus meminum ini, kau tidak sayang pada dirimu sendiri?", katanya seperti merengeh kepadaku.
Aku merangkulnya, sambil ku jatuhkan isi yang ada di dalam botol minuman kerasku yang sedang ku genggam.
"Bagaimana kau bisa menyayangiku, jika kau tak menyayangi dirimu sendiri. Hidupmu berharga, kau mau minuman keras ini menggerogoti tubuhmu.", wajahnya berubah menjadi sendu.
Aku menghentikan langkahku.
"Ijinkan aku meminum ini sampai pernikahannya datang. Aku mohon!"
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ijinkan itu untuk kebahagiaanku. Please!"
Dengan murung dia meng-ya-kan.
********
Kebahagiaan, kau akan merasa nyaman, tenang, damai, seperti berayun di bawah pohon rindang, yang dihiasi musim semi bertaburan. Tidak merasakan beban, bahkan bungapun tersenyum memekar padamu. Kali ini, aku akan mengajakmu menjelajah pada "kebahagiaanku".
Udara sore itu membangunkan mataku pada seorang perempuan yang sedang berayun di bawah pohon. Bunga yang bertebaran di atas pohon terjatuh tepat di atas kepalanya, dia tersenyum dan mengambil bunga kuning itu, lesung pipit menghimpit pipinya. Manis sekali! Sambil menghabiskan es krim yang di genggamnya, dia merasakan angin sepoy-sepoy yang menerbangkan rambut terurainya. Sesekali, helai rambutnya menghalangi mata indahnya, mata yang setiap hari ku tatap di bangku putih abu. Dia Nina, kebahagiaanku.
Komentar
Posting Komentar