Langsung ke konten utama

Di bawah Kebahagiaanmu (3)

Menemukannya adalah kebahagiaan, mencintainya adalah anugerah. Nanti kau akan tahu apa sebabnya aku membuat statement seperti itu. 
"Sudah, jangan kau terus meminum ini, kau tidak sayang pada dirimu sendiri?", katanya seperti merengeh kepadaku.
Aku merangkulnya, sambil ku jatuhkan isi yang ada di dalam botol minuman kerasku yang sedang ku genggam.
"Bagaimana kau bisa menyayangiku, jika kau tak menyayangi dirimu sendiri. Hidupmu berharga, kau mau minuman keras ini menggerogoti tubuhmu.", wajahnya berubah menjadi sendu.
Aku menghentikan langkahku.
"Ijinkan aku meminum ini sampai pernikahannya datang. Aku mohon!"
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ijinkan itu untuk kebahagiaanku. Please!"
Dengan murung dia meng-ya-kan. 
********
Kebahagiaan, kau akan merasa nyaman, tenang, damai, seperti berayun di bawah pohon rindang, yang dihiasi musim semi bertaburan. Tidak merasakan beban, bahkan bungapun tersenyum memekar padamu. Kali ini, aku akan mengajakmu menjelajah pada "kebahagiaanku".

Udara sore itu membangunkan mataku pada seorang perempuan yang sedang berayun di bawah pohon. Bunga yang bertebaran di atas pohon terjatuh tepat di atas kepalanya, dia tersenyum dan mengambil bunga kuning itu, lesung pipit menghimpit pipinya. Manis sekali! Sambil menghabiskan es krim yang di genggamnya, dia merasakan angin sepoy-sepoy yang menerbangkan rambut terurainya. Sesekali, helai rambutnya menghalangi mata indahnya, mata yang setiap hari ku tatap di bangku putih abu. Dia Nina, kebahagiaanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...