Aku tahu, kita bersama sudah mengelilingi
beratus-ratus rotasi bumi. Bukan satu detik atau dua detikkan, atau semisal
kamu ingin menghitungnya pakai jari, tidak mungkin-- karena salah.
Aku milikmu, bahkan hati ini, tidak ada
yang lain. Kalau kaukira aku punya kekasih lain, perkiraanmu bernilai nol
besar. Sifatku, kebiasaanku, membiarkanmu mengeluarkan celoteh-celotehanmu yang
berulang-ulang. Memasang telinga sudah jadi keharusanku, terkadang membuat aku
dongkol sendiri. Aku tahu kamu menyayangiku.
Mungkin masa kejenuhanku sudah diujung
tanduk, yang selama ini aku gunungkan dalam benakku. Berdebat sudah jadi kebiasaan
dalam halaman hubungan kita. Aku lelah, aku ingin lepas, terbang seperti
burung. Tapi, kamu masih selalu memaksaku untuk tetap berdiri bersamamu,
menggenggam erat tanganku—walaupun aku tahu tak sejalan dengan apa yang hatimu
inginkan. Berkali-kali aku katakan, biarkan aku pergi sebentar. Tapi, air
matamu selalu memaksa agar aku tetap tinggal, tetap memelukmu.
Biarkanlah aku pergi, aku tidak akan
hilang. Aku masih berdiri di bumi ini, aku tak berubah. Hanya mungkin, tidak
menjadi milikmu lagi seperti sebelumnya. Kamu masih bisa bertegur sapa
denganku, walaupun tak semanis dulu. Kamu masih bisa melihat senyumku, walau
senyumnya bukan milikmu. Sedikit menyakitkan, tapi aku tahu kamu wanita yang
tegar.
Kita masih bisa berteman, belajar
meninggalkan kisah-kisah yang pernah berlalu dalam masa-masa kebelakang. Kita
hanya butuh bersahabat dengan waktu, agar waktu membantu kita menghilangkan
kenangan dari sisa-sisa kisah ini. Aku akan berjalan denganku, dan kamu dengan
jalanmu. Aku menyayangimu, tidak akan berubah.
Komentar
Posting Komentar