Aku tak pernah menyangka bisa mengenalmu begitu dalam, sampai kamu bisa
menarik hatiku dan membuat aku lebih mencintai dirimu daripada diriku sendiri.
Bahkan kamu mengalihkan perhatianku untuk selalu menyayangimu, selalu
berusaha ada saat kau membutuhkanmu, dan kamupun melakukan hal yang
sama. Tak pernah sedetikpun aku kehilangan perhatian dari seorang
kekasih sejak kamu berada di koridor hariku. Kamu selalu mempunyai
seribu cara untuk membuat aku bahagia, dan tidak berpaling pada yang
lain. Yang aku tahu; kamu adalah apa yang selalu aku inginkan. Entah
bagaimana caranya, aku selalu merasa sempurna sejak kamu ada bersamaku.
Tertawa, bahagia, aku sampai lupa sejak kapan aku terluka karena orang
yang salah.
Aku mengerti, jalan cinta tak selamanya mulus. Akan sulit, jika kita mengangapnya sulit, dan akan mudah, jika kita menganggapnya mudah. Dan mungkin kita lupa kata "mudah" itu sehingga sulit adalah pilihan kita. Ketika berpisah adalah jalan terakhir kita. Mengapa harus ada kata berpisah, rasanya itu memalukan. Bukankah kita pernah saling cinta, bukankah kita pernah saling menyayangi dan mengombang-ambing perhatian, dan bukankah kita dulu paling bisa saling membahagiakan. Lalu, mengapa berpisah adalah pilihan kata akhir yang sungguh menyakitkan.
Dengar, Tuan. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Aku akan menatap matamu, dan kamu akan menatap mataku. Resapi bagaimana kita pernah saling berjuang bersama-sama, memegang komitmen untuk saling membahagiakan dan sekarang katakan bahwa kamu membutuhkan aku. Bawa aku kembali ke awal, karena aku tahu Tuan; aku adalah apa yang kamu inginkan.
Aku mengerti, jalan cinta tak selamanya mulus. Akan sulit, jika kita mengangapnya sulit, dan akan mudah, jika kita menganggapnya mudah. Dan mungkin kita lupa kata "mudah" itu sehingga sulit adalah pilihan kita. Ketika berpisah adalah jalan terakhir kita. Mengapa harus ada kata berpisah, rasanya itu memalukan. Bukankah kita pernah saling cinta, bukankah kita pernah saling menyayangi dan mengombang-ambing perhatian, dan bukankah kita dulu paling bisa saling membahagiakan. Lalu, mengapa berpisah adalah pilihan kata akhir yang sungguh menyakitkan.
Dengar, Tuan. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik. Aku akan menatap matamu, dan kamu akan menatap mataku. Resapi bagaimana kita pernah saling berjuang bersama-sama, memegang komitmen untuk saling membahagiakan dan sekarang katakan bahwa kamu membutuhkan aku. Bawa aku kembali ke awal, karena aku tahu Tuan; aku adalah apa yang kamu inginkan.
Komentar
Posting Komentar