Langsung ke konten utama

Kedatangan Laki-Laki Itu (Di Bawah Kebahagiaanmu)

Aku berjalan di tengah musim salju yang mulai berganti, dan sepertinya dia sudah lelah membasahi mantelku ini. Lamunanku lurus ke jalan yang masih enggan di ramaikan oleh banyak orang. Fikiranku masih terjerumus pada wanita keras kepala itu, wanita yang tadi aku temui di depan minimarket. Genggaman tangannya yang erat dengan laki-laki itu masih teringat jelas.
  “Hi, Tiger! Ini....”, katanya seperti gugup.
  “Ya, ada yang ingin kamu jelaskan?”, kataku berusaha santai.
  “Dia sudah kembali. Apa menurut kamu ini suatu hal yang menggembirakan?” 
  “Tentu. Lalu..”, kataku dengan santai.
              “Aku akan menikah dengannya bulan depan.”

Aku terdiam seperti terpaku pada keadaan. Aku menatapnya tajam, dia menundukkan kepalanya. Aku tahu dia berat mengatakan ini, aku tahu dia sudah mulai menyukaiku, aku tahu.. dan seharusnya tidak pernah terjadi. Aku seperti menghantam diriku sendiri.
“Baiklah, aku sudah mengerti. Selamat untuk kalian berdua sudah dipertemukan di jalan yang sama. Kamu (ku tunjuk wanita itu), aku belum pernah menemukan wanita sepertimu, terima kasih telah menyelipkan kebahagiaan untukku, dan Anda (ku tunjuk laki-laki itu), jangan pernah mengecewakannya.”
Aku mungkin pernah mengecewakannya, tapi aku tidak akan mengulanginya lagi. Wanitaku sudah cerita banyak tentangmu. Aku tidak tahu bagaimana ku ungkapkan rasa terima kasih, karena kau telah menjaga Tuan Puteriku dengan sangat aman, dan tak ada gores luka sedikitpun.”, kata laki-laki itu berusaha bersahabat dan penuh hormat padaku.
“Aku memang bisa menjaganya dan tak membiarkan bumi menggoreskan luka setitikpun, tapi sayangnya, Pangerannyalah yang malah membuat hatinya tergores. Kau tahu, dia sudah menunggumu sekian lama, bahkan di bawah badai salju. Saat pohon-pohon yang mulai lebat nan indah, dan orang-orang menyambut musim semi, tapi dia masih menunggu untuk menyambut kedatanganmu di ujung stasiun. Sayangnya, kau tak kunjung tiba. Aku sangat ingat, di bawah sengatan matahari saat musim panas dia masih menunggu Pangerannya datang, hingga membiarkan kulit yang indah ini menjadi sangat kusut (sambil ku pegang tangannya). Dan akhirnya hatinya gugur kembali, karena kesedihanpun berpaling memeluknya lagi. Terus berulang-ulang hingga beberapa tahun kedepan. Begitu sangat hebat Tuan Puterimu. Aku harap kau menjaganya lebih baik daripada aku.”, kataku dengan tegas dan penuh hormat.  
 “Apa yang bisa aku balas padamu?”, tanyanya.
“Aku ingin dia. Bisakah kau memberikannya padaku?”, kataku menunjuk pada wanita itu. Laki-laki itu tercengang.
“Tenanglah, aku hanya bercanda.”, kataku berusaha mencairkan suasana dengan tertawa.
                Akupun melangkah pergi dari mereka.
   “Sebentar.”, katanya memberhentikan langkahku.
“Aku sudah membiarkan kekasihku menjadi milikmu ketika aku tak berada disampingnya. Mengapa kau memintanya kembali? Aku rasa itu bukan candaan.”
“Aku memilikinya, tapi tidak untuk hatinya.”, kataku sambil menegokkan kepalaku ke kanan tanpa melihat mereka, dan berlalu pergi.

            Aku tidak merasa salah jika aku ingin memiliki hatinya, tapi benteng kesetiaannya terlalu kuat untuk dirobohkan, dan aku tak punya kekuatan untuk melakukannya. Fikiranku membuyar, mengapa aku jadi seegois ini? Aku hanya ingin dia bahagia, dan mewujudkan impiannya, meredamkan rindu untuk laki-lakinya. Ah, sudahlah. Ini hanya membuat aku semakin menyakiti diriku sendiri. Dan sekarang.. Aku tersentak melihat jam ditanganku.
  “Mayaa.... Oh, Shit!”, kataku sambil berlari.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...