Aku berjalan di tengah musim salju yang mulai berganti, dan sepertinya
dia sudah lelah membasahi mantelku ini. Lamunanku lurus ke jalan yang masih
enggan di ramaikan oleh banyak orang. Fikiranku masih terjerumus pada wanita
keras kepala itu, wanita yang tadi aku temui di depan minimarket. Genggaman
tangannya yang erat dengan laki-laki itu masih teringat jelas.
“Hi, Tiger! Ini....”, katanya seperti gugup.
“Ya, ada yang ingin kamu jelaskan?”, kataku berusaha santai.
“Dia sudah kembali. Apa menurut kamu ini suatu hal yang menggembirakan?”
“Tentu. Lalu..”, kataku dengan santai.
“Aku
akan menikah dengannya bulan depan.”
“Baiklah, aku sudah mengerti. Selamat untuk kalian berdua sudah dipertemukan di jalan yang sama. Kamu (ku tunjuk wanita itu), aku belum pernah menemukan wanita sepertimu, terima kasih telah menyelipkan kebahagiaan untukku, dan Anda (ku tunjuk laki-laki itu), jangan pernah mengecewakannya.”
“Aku mungkin pernah mengecewakannya, tapi aku tidak akan mengulanginya lagi. Wanitaku sudah cerita banyak tentangmu. Aku tidak tahu bagaimana ku ungkapkan rasa terima kasih, karena kau telah menjaga Tuan Puteriku dengan sangat aman, dan tak ada gores luka sedikitpun.”, kata laki-laki itu berusaha bersahabat dan penuh hormat padaku.
“Aku memang bisa menjaganya dan tak membiarkan bumi menggoreskan luka setitikpun, tapi sayangnya, Pangerannyalah yang malah membuat hatinya tergores. Kau tahu, dia sudah menunggumu sekian lama, bahkan di bawah badai salju. Saat pohon-pohon yang mulai lebat nan indah, dan orang-orang menyambut musim semi, tapi dia masih menunggu untuk menyambut kedatanganmu di ujung stasiun. Sayangnya, kau tak kunjung tiba. Aku sangat ingat, di bawah sengatan matahari saat musim panas dia masih menunggu Pangerannya datang, hingga membiarkan kulit yang indah ini menjadi sangat kusut (sambil ku pegang tangannya). Dan akhirnya hatinya gugur kembali, karena kesedihanpun berpaling memeluknya lagi. Terus berulang-ulang hingga beberapa tahun kedepan. Begitu sangat hebat Tuan Puterimu. Aku harap kau menjaganya lebih baik daripada aku.”, kataku dengan tegas dan penuh hormat.
“Apa yang bisa aku balas padamu?”, tanyanya.
“Aku ingin dia. Bisakah kau memberikannya padaku?”, kataku menunjuk pada wanita itu. Laki-laki itu tercengang.
“Tenanglah, aku hanya bercanda.”, kataku berusaha mencairkan suasana dengan tertawa.
Akupun
melangkah pergi dari mereka.
“Sebentar.”, katanya memberhentikan langkahku.
“Aku sudah membiarkan kekasihku menjadi milikmu ketika aku tak berada disampingnya. Mengapa kau memintanya kembali? Aku rasa itu bukan candaan.”
“Aku memilikinya, tapi tidak untuk
hatinya.”, kataku sambil menegokkan kepalaku ke kanan tanpa melihat mereka, dan
berlalu pergi.
Aku
tidak merasa salah jika aku ingin memiliki hatinya, tapi benteng kesetiaannya
terlalu kuat untuk dirobohkan, dan aku tak punya kekuatan untuk melakukannya. Fikiranku
membuyar, mengapa aku jadi seegois ini? Aku hanya ingin dia bahagia, dan
mewujudkan impiannya, meredamkan rindu untuk laki-lakinya. Ah, sudahlah. Ini
hanya membuat aku semakin menyakiti diriku sendiri. Dan sekarang.. Aku
tersentak melihat jam ditanganku.
“Mayaa.... Oh, Shit!”, kataku sambil berlari.

Komentar
Posting Komentar