Langsung ke konten utama

Untuk Mawar Merah yang Layu

Dulu, setangkai mawar merah selalu menyambut mentariku di pagi hari, mengembang mekar merah seakan tersenyum padaku, “Semangat untuk hari ini!”. Tak pernah dia membiarkan aku sendiri, menepis dinding hari-hariku. Bebanku ringan, pundakku tak seberat dulu. Aku tahu dia mencintaiku.
Dia menghapus tangisku, dia tak pernah membiarkan air mata ini menggenang dipipiku. Dia ada, saat aku mulai lelah menggenggam mimpi. Dia hadir menjadi pundak untuk menopang lelahku. Piluku hilang, senyuman lebar menghias bibirku lagi, “Jangan sedih, bunga mawarnya lesu, nih!”. Aku tahu dia mencintaiku.
Rasa itu masih tetap sama, tak lebih dari sekedar bunga mawar kuning. Kau pernah memohon untuk lebih dari itu. Siapa yang tahu hati seseorang, itu berat ketika harus berbohong bahwa aku mencintaimu juga, tetapi nyatanya berbanding terbalik. Aku tak seburuk itu. Hatimu tak terbalaskan. Ya, kau mulai mengerti itu, bahwa hati tak bisa dipaksakan. Dan bunga mawar kuningku tak akan pernah bisa menjadi mawar merahmu.
Aku membiarkan kau pergi dengan yang lain. Aku tak tahu itu salah atau benar, tetapi kenyamanan terbesar adalah bersamamu. Aku tak mungkin seegois itu untuk membiarkanmu tetap berada disisiku, memaksa kehendakku sedangkan aku tak bisa menancapkan bunga mawarmu dihatiku.
Semua berubah, hari demi hariku tanpamu. Mentari pagiku tak sesegar dulu, senyuman bunga mawar itu mulai hilang, dia tak lagi menyambutku dengan lembut. Aku kehilangannya. Ya! Aku kehilangan bunga mawar itu.
Aku datang padanya mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya. Tetapi langkahmu tak lagi sedekat dulu. Ya, langkah yang pernah menjadi semangat hariku. Aku buruk, dadaku sesak saat itu, air mata mulai mengalir deras dipipiku. Dia sudah bersamanya, dengan wanita yang mungkin siap untuk menggenggam bunga mawarmu dan duri-durinya. Aku kehilangannya.
Dia menatap mataku dalam, matanya seperti melukiskan kekecewaannya. Raut wajahnya bisu, seperti memendam amarahnya. Genggaman tangannya dingin, tak sehangat dulu lagi. Dia melangkah pergi, mengambil genggaman wanita itu. Aku sadar, mawar kuning itu sudah berubah menjadi mawar merah yang kau inginkan sejak dulu, tetapi dia layu. Maafkan aku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...