Dulu, setangkai mawar merah
selalu menyambut mentariku di pagi hari, mengembang mekar merah seakan
tersenyum padaku, “Semangat untuk hari ini!”. Tak pernah dia membiarkan aku
sendiri, menepis dinding hari-hariku. Bebanku ringan, pundakku tak seberat
dulu. Aku tahu dia mencintaiku.
Dia menghapus tangisku, dia tak
pernah membiarkan air mata ini menggenang dipipiku. Dia ada, saat aku mulai
lelah menggenggam mimpi. Dia hadir menjadi pundak untuk menopang lelahku.
Piluku hilang, senyuman lebar menghias bibirku lagi, “Jangan sedih, bunga
mawarnya lesu, nih!”. Aku tahu dia mencintaiku.
Rasa itu masih tetap sama, tak
lebih dari sekedar bunga mawar kuning. Kau pernah memohon untuk lebih dari itu.
Siapa yang tahu hati seseorang, itu berat ketika harus berbohong bahwa aku
mencintaimu juga, tetapi nyatanya berbanding terbalik. Aku tak seburuk itu. Hatimu
tak terbalaskan. Ya, kau mulai mengerti itu, bahwa hati tak bisa dipaksakan.
Dan bunga mawar kuningku tak akan pernah bisa menjadi mawar merahmu.
Aku membiarkan kau pergi dengan
yang lain. Aku tak tahu itu salah atau benar, tetapi kenyamanan terbesar adalah
bersamamu. Aku tak mungkin seegois itu untuk membiarkanmu tetap berada
disisiku, memaksa kehendakku sedangkan aku tak bisa menancapkan bunga mawarmu
dihatiku.
Semua berubah, hari demi hariku
tanpamu. Mentari pagiku tak sesegar dulu, senyuman bunga mawar itu mulai
hilang, dia tak lagi menyambutku dengan lembut. Aku kehilangannya. Ya! Aku
kehilangan bunga mawar itu.
Aku datang padanya mungkin
untuk pertama dan terakhir kalinya. Tetapi langkahmu tak lagi sedekat dulu. Ya,
langkah yang pernah menjadi semangat hariku. Aku buruk, dadaku sesak saat itu,
air mata mulai mengalir deras dipipiku. Dia sudah bersamanya, dengan wanita
yang mungkin siap untuk menggenggam bunga mawarmu dan duri-durinya. Aku
kehilangannya.
Dia menatap mataku dalam,
matanya seperti melukiskan kekecewaannya. Raut wajahnya bisu, seperti memendam
amarahnya. Genggaman tangannya dingin, tak sehangat dulu lagi. Dia melangkah
pergi, mengambil genggaman wanita itu. Aku sadar, mawar kuning itu sudah
berubah menjadi mawar merah yang kau inginkan sejak dulu, tetapi dia layu.
Maafkan aku.
Komentar
Posting Komentar