Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Ajaklah Duduk Bersama

Ada yang lebih menyakitkan daripada perpisahan, yaitu kehilangan. Bayangkan saja, dulu-- dia selalu hadir dalam setiap harimu, mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat tidur "sweet dream". Tetapi, jika itu menjadi sebuah kebiasaan-- lalu tiba-tiba menghilang, kamu yakin bisa tanpa dia. Apalagi sudah bertahun-tahun kamu menggenggam tangannya, kamu tahu kebiasaannya, kamu tahu kelemahannya, kelebihannya, kesukaannya, ketidaksukaannya, itu menyakitkan, coba ingatlah sebentar. Kamu yang biasa diantar atau dijemput di sekolah, di tempat kerja, di rumah temanmu, atau bahkan yang lainnya-- itu pengorbanan, seharusnya kamu tahu betul itu, dia meluangkan waktu untuk menatap kamu, menyapa kamu, tersenyum, bersenda gurau-- hanya untuk kamu. Senyum manisnya menyambutmu, berharap lelahmu hilang dalam setiap mata pelajaran yang berputar seharian diotakmu, atau bahkan meredakan setress dari tumpukan file-file dikerjaanmu, cacian maki dari atasanmu. Tapi, dia hadir saa...

Kamu; 96,8 km

96,8 km adalah kamu. Kamu yang selalu aku rindukan dibalik jarak. Jarak yang selalu membuatku menahan sesaknya dada. Mengempiskan asa yang terpendam. 96,8 km adalah perjalanan. Perjalanan untuk bertemu kamu. Menatap kedua bola matamu yang sayu. Selalu memaksa untuk menentang kelelahan dari setiap waktu. 96,8 km adalah rindu. Rindu yang selalu mengelilingi otakku disetiap malam. Tak pernah berhenti untuk berkata, "Temui aku!" Selalu membuatku menggugahkan semangat jiwaku. 96,8 km, tunggu aku pulang!

Ini tentang keadaan

Aku seharusnya tahu diri bagaimana aku harus bersikap. Tapi, dengan dinginnya sikapmu, bahkan perhatian besarpun-- jika itu aku harapkan darimu, pada ujungnya akan menghasilkan nilai nol besar, bodoh. Aku, wanita yang sudah bersamamu bukan hanya satu atau dua tahun seperti hal nya anak-anak muda jaman sekarang yang sedang berombak dalam cinta. Aku sudah bersamamu selama 17 tahun. ​​ Aku tidak akan salahkan waktu, mungkin kita sudah melabuhi waktu yang sangat lama, sehingga titik kebosanan itu pasti datang, menggempal di otakmu dan mungkin dalam otakku juga. Aku juga tidak akan salahkan dirimu-- yang pernah dengan serius datang ke rumahku; menemui kedua orang tuaku dan berani penuh meminangku, menanggung lahir batinku, dosa-dosaku, juga tanggung jawabku. Dan, semua itu adalalah pilihanku. Aku tidak mungkin menyesali apa yang telah aku pilih, karena kamu adalah "keputusanku". Keputusan yang pernah membawaku dalam ke-halal lan yang pernah wanita muda itu impi...

Bintang Terangku

Sudah hampir satu tahun aku kehilanganmu. Kehilangan sesosok laki-laki yang sudah ku kenal sejak lama, bahkan jiwanya pun sudah menyatu dalam ragaku. Bagaimana aku melupakannya, jika bersamamu adalah hal yang paling indah ; tak pernah aku temui sebelumnya? Ajari aku agar aku bisa melupakanmu, melupakan senyum lagi, yang bahwa kenyataannya aku sudah kehilanganmu selamanya. Kau hanya meninggalkan namamu di atas batu nisan. Kau selalu berkata, jika aku merindukanmu, lihatlah ke atas langit, jika ada bintang paling terang itulah aku yang sedang tersenyum di surga. Sudah hampir sebulan ini, hujan terus menyelimutiku setiap malam. Sehingga aku tak bisa melihat senyuman kamu dari atas balkon ini. Aku tak bisa merasakan kehadiran kamu lagi. Membuat rindu begitu merasuk dalam jiwaku, mengganggu, menyiksaku-- membuat aku lelah untuk menemukanmu.  Hari esok adalah hari pernikahanku, dan itu yang aku harus hadapi. Dia melamarku tiga bulan yang lalu, d ia anak dari teman Ayahku....