Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Sahabat "Katak-ku"

Aku sudah menunggu lama, bertahun tahun, berbulan bulan, berhari hari untuk bertemu denganmu kembali. Bagaimana rupamu sekarang? Apa setampan dulu atau sebaliknya. Aku rindu saat kita bermain bersama, berbagi permen, es krim yang kita punya seperti sepuluh tahun yang lalu. Bagiku detik-detik menuju pertemuan kita ini seperti berabad abad tahun, aku kesepian tanpa kehadiranmu dan tanpa candamu setiap waktunya. Katanya kau sekarang sudah berubah menjadi dewasa, kau lebih bisa merawat penampilanmu. Tidak seperti dulu, kau masih terlihat lugu dan polos dengan bertumpuk berbagai buku di tanganmu. Pertemuan awal setelah sekian lama tak jumpa, di bandara itu. Aku melangkah kegirangan dari rumah, sudah kutata dengan rapih sesempurna mungkin tampilanku dengan bando merah yang menambah keindahan rambutku yang terurai panjang ikal. Oh Tuhan, betapa sangat berdebarnya jantung ini lebih dari biasanya. Seperti akan bertemu dengan sang kekasih yang sudah lama tak pernah jumpa. Walaupun nyatanya ...

Moccacino (Jadilah Inspirasi)

Selalu ada alasan untuk "stay chat with you ", bukan karena egoku yang kuat tapi tutur katamu yang memikat. Caramu memperlakukan medsos membuat aku mengerti bahwa kau wanita seperti apa. Menciptakan inspirasi tanpa menggurui, berkreasi tanpa menghakimi, tanpa mengeluh dalam setiap masalah, mengatasinya dengan cara yang   mereka tidak mengerti.  Mengagumimu adalah keberuntungan. Tiada kata yang pantas untuk menggambarkan posisi kita, kau dan aku selain kata “Dede“   cantik dan Kakak, ya .. Adik yang terlahir dari janin yang berbeda, adik tempat berbagi cerita yang mungkin orang lain tidak bi sa mendapatkannya, dan   adik yang selalu ceria dalam setiap suasana. Jika aku baik untuknya, semoga bukan hanya karena Allah menutupi kejelekkanku, pun sebaliknya, dia baik karena memang begitu. Saling mendoakan dalam kebaikan, dan saling mengingatkan dalam kekeliruan. Jadilah inspirasi dengan setiap warna yang kau lukiskan dalam setiap tulisan. Jangan pernah memudar me...

Untuk Kebahagiaan

Mereka masih bersama-sama bercanda tawa lepas bahagia, seperti Adam dan Hawa saat pertama bertemu melepas rindu yang sudah lama menahan sesak di dalam dadanya. Detik, menit, jam dan waktupun sudah bergulir sangat cepat, rasa mereka semakin hari semakin bertambah , bahkan tahun menahun sudah mereka hempaskan bersama. Rama sudah seperti Rima, dan Rima sudah seperti Rama. Bahkan mereka lupa sejak kapan sudah saling mencintai satu sama lain. Rama sudah menjadi kekurangan Rima, dan Rima sudah menjadi kelebihan Rama, dan mereka tahu bahwa itu adalah cinta yang saling melengkapi. Senja itu, seorang sahabat mengajak Rama untuk bertemu kekasihnya. Semuanya terlihat masih baik-baik, Rama berdandan sangat rapih, dia poleskan gel di rambutnya, dan dibelinya setangkai mawar putih, berharap menambah suasana romantis pada malam mi n ggu itu. Terlihat ramai keluarganya, bekas piring dan makanan bergelatak di mana saja. Rama menemui Rima di belakang rumahnya.  “Ada apa? Apa yang telah t...

Kedatangan Laki-Laki Itu (Di Bawah Kebahagiaanmu)

Aku berjalan di tengah musim salju yang mulai berganti, dan sepertinya dia sudah lelah membasahi mantelku ini. Lamunanku lurus ke jalan yang masih enggan di ramaikan oleh banyak orang. Fikiranku masih terjerumus pada wanita keras kepala itu, wanita yang tadi aku temui di depan minimarket. Genggaman tangannya yang erat dengan laki-laki itu masih teringat jelas.   “Hi, Tiger! Ini....”, katanya seperti gugup.   “Ya, ada yang ingin kamu jelaskan?”, kataku berusaha santai.   “Dia sudah kembali. Apa menurut kamu ini suatu hal yang menggembirakan?”      “Tentu. Lalu..”, kataku dengan santai.               “Aku akan menikah dengannya bulan depan.” Aku terdiam seperti terpaku pada keadaan. Aku menatapnya tajam, dia menundukkan kepalanya. Aku tahu dia berat mengatakan ini, aku tahu dia sudah mulai menyukaiku, aku tahu.. dan seharusnya tidak pernah terjadi. Aku sepert...

Di Ujung Stasiun (Di Bawah Kebahagiaanmu)

Raut wajahnya kini sudah berubah, dulu dia selalu ceria, bahkan bintangpun iri padanya. Dia selalu menunggu laki-laki itu di ujung stasiun, berharap kereta malam membawakan kekasihnya yang sudah dia tunggu disetiap musim yang berlalu. Aku selalu menemaninya di sini setiap tepat pukul 7.10 PM.  Dia selalu tersenyum ketika kepala kereta sudah terlihat oleh matanya dari kejauhan. "Lihat, kali ini dia pasti datang!", katanya kegirangan. Aku tahu, dia pasti tidak datang. Harapanmu sirna lagi kali ini, tidak, aku salah, sudah berulang-ulang kali harapanmu sirna. Mengapa kau tak melihat aku di sini, aku juga seorang kekasih yang selalu ada denganmu, menemanimu, menghiburmu, bahkan rela mengantarmu ke stasiun ini hanya untuk menyakiti hatiku sendiri. Aku tak mau memanggilmu "Jahat!", karena aku tahu ini adalah keputusanku, dan ini yang aku inginkan. Keinginan yang akan membuat aku dicaci banyak orang, "Lelaki bodoh, memang tak ada wanita lain!". Bukankah ...