Angin di bulan September
menembus sampai ke buku-buku kulitku, dan Sang Hujan tak pernah berhenti untuk
mengabsenkan dirinya hinggap di dinding hari. Entah bagaimana air hujan bisa
akrab dengan bulan September ini. Membawa rindu yang tak pernah mau bertanggung
jawab, menelan hari bersama sepinya hati, menelantarkan sunyi untuk mengenal
malam.
Coba kau tengok keluar
sebentar, mataharipun sedikit malu-malu untuk menguasai siang, karena mendung
selalu menjadi pemeran utama di bulan September ini. Bukan awan mendung egois,
tapi mungkin matahari ingin mendukung sang perindu agar sedikit terbebaskan
dari jerat-jerat yang terkadang sulit diungkapkan.
Rindu. Ya, benar, aku sangat
mengenal rindu bersama hujan. Karena hujan selalu menyembunyikan rindu-rindu
dibalik air yang jatuh ke bumi. Seperti perasaan ini yang masih saja mau
menjelma dalam fikiranku, bukan hatiku, aku pertegas lagi---menjelma dalam
fikiranku, bukan hatiku. Karena satu tahun kehilangannya adalah satu tahun aku
membiarkan kebahagiaanku untuk orang lain. Aku tak mau egois untuk tetap
mempertahankan sebuah perasaan yang dipaksakan. Bukan dia tak mencintaiku, jika
kau beranggapan seperti itu; kamu salah. Aku sangat mengenalnya, mungkin dia
mulai bosan dengan keadaan yang tak pernah tahu ke mana jalan akhirnya. Biarkanlah
wanita itu yang menggantikan senyumanku yang pernah sangat melekat bersamamu, pernah
menjadi bagian dari moodboster-mu. Kau
ingat, Tuan? Kau selalu berkata; you’re
my moodboster. Kini, aku tak lagi ada dalam firstline chat-mu yang setiap pagi menyapamu, mengucapkan selamat
pagi sampai selamat tidur, menjadi orang yang paling kau cari saat kamu jatuh
sakit; karena aku tahu kau sangat mudah untuk masuk angin, tetapi kau selalu meminta
lebih untuk diperhatikan. Walaupun pada kenyataannya aku bukan perempuan yang
mahir untuk memberi perhatian. Kau selalu bawel
ketika aku sedikit cuek, ketika aku sudah sibuk dengan duniaku, sehingga
kau menjadi sedikit terabaikan.
Untuk satu tahun kehilanganmu, tak ada yang lebih menyakitkan; melainkan saat aku merindukanmu.
Untuk Tuan,
Yang aku panggil sebelum aku terlelap
(Chapter of #kupelukkomitmenku)
Komentar
Posting Komentar