Mereka masih bersama-sama bercanda tawa lepas bahagia, seperti
Adam dan Hawa saat pertama bertemu melepas rindu yang sudah lama menahan sesak
di dalam dadanya. Detik, menit, jam dan waktupun sudah bergulir sangat cepat,
rasa mereka semakin hari semakin bertambah, bahkan tahun menahun sudah mereka hempaskan bersama. Rama
sudah seperti Rima, dan Rima sudah seperti Rama. Bahkan mereka lupa sejak kapan
sudah saling mencintai satu sama lain. Rama sudah menjadi kekurangan Rima, dan Rima
sudah menjadi kelebihan Rama, dan mereka tahu bahwa itu adalah cinta yang
saling melengkapi.
Senja itu, seorang sahabat mengajak Rama untuk bertemu
kekasihnya. Semuanya terlihat masih baik-baik, Rama berdandan sangat rapih, dia
poleskan gel di rambutnya, dan dibelinya setangkai mawar putih, berharap
menambah suasana romantis pada malam minggu itu.
Terlihat ramai keluarganya, bekas piring dan makanan bergelatak
di mana saja. Rama menemui Rima di belakang rumahnya.
“Ada apa? Apa yang telah terjadi?”, tanya Rama heran.
Rima masih
menundukan kepalanya, bibirnya masih membungkam dan menahan air matanya.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu yang tak bisa Rima jelaskan padamu.”, kata sahabat itu.
“Tentang hubungan kita? Semuanya baik-baik saja, ya, kan?”
Rima tak
menjawab apapun, dia masih membungkam mulutnya.
“Dia telah dilamar oleh seorang laki-laki.”, sontak sahabat.
“Aku terpaksa, ini semua keinginan Ayah dan Bunda. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku!.”, Rima menangis, air matanya seakan membuyar membasahi pipinya.
Rama seperti di gampar oleh
pernyataannya. Sontak tubuh dan nyawanya, semua indra terasa berhenti.
Pikirannya seperti dalam dimensi hening serasa sepi kedap tanpa suara. Menusuk,
itu terasa sesak dalam dadanya.
“Wow, hebat, ini kabar bahagia. Kau puteri yang baik nan patuh pada Ayah dan Bunda. Ini untukmu, anggap saja ini ucapan selamat atas pertunanganmu hari ini dari seorang kekasih yang sangat mencintaimu (sambil memberikan bunga mawar yang dia bawa). Aku akan datang ke acara pernikahanmu. Hanya satu pintaku, aku tak mau kau menangis saat aku hadir di sana, saat kau menginjak kepercayaan dan harga diriku. Aku ingin melihat kekuatan cintamu nanti di atas pelaminan, aku tak ingin melihat air mata ini jatuh dipipi polesan pengantin nanti (sambil menyeka air mata dipipi Rima).”, kata Rama menguatkan dirinya.
Tepatnya tanggal 10 Oktober 2010 hari
bahagia untuk Si Pengantin datang, tapi tidak untuk Rima. Sahabatnya berusaha
menguatkan.
“Kau tak boleh menangis, anggap saja ini ibadahmu untuk orang tuamu.”, kata sahabatnya.
“Aku telah menyakitinya, aku lemah, aku tak berdaya.”
“Semua pasti baik-baik saja. Kalau kau mencintainya, tunjukkan kekuatan cintamu agar saat kedatangannya air mata ini tidak terjatuh. Kau pasti kuat.” Sahabatnya merangkulnya.
Di pintu pelaminan singgasana
kedua mata itu saling bertemu, dan mereka saling bertatapan menahan, merenyuh
tetesan air matanya.
“Lihat, aku seorang diri menepati janji terakhir untuk kekasihnya. Semoga kau bahagia dengan Imammu kelak, jadilah Makmum yang patuh. Kebahagiaanmu itu adalah kebahagiaanku. Mungkin cinta kita satu, tapi raga kita tak bisa menyatu. Do’a restu mu hanya pada orang tua mu. Selamat untuk kebahagiaan yang baru.”
-Dado Rama

Komentar
Posting Komentar