Langsung ke konten utama

Untuk Kebahagiaan

Mereka masih bersama-sama bercanda tawa lepas bahagia, seperti Adam dan Hawa saat pertama bertemu melepas rindu yang sudah lama menahan sesak di dalam dadanya. Detik, menit, jam dan waktupun sudah bergulir sangat cepat, rasa mereka semakin hari semakin bertambah, bahkan tahun menahun sudah mereka hempaskan bersama. Rama sudah seperti Rima, dan Rima sudah seperti Rama. Bahkan mereka lupa sejak kapan sudah saling mencintai satu sama lain. Rama sudah menjadi kekurangan Rima, dan Rima sudah menjadi kelebihan Rama, dan mereka tahu bahwa itu adalah cinta yang saling melengkapi.

Senja itu, seorang sahabat mengajak Rama untuk bertemu kekasihnya. Semuanya terlihat masih baik-baik, Rama berdandan sangat rapih, dia poleskan gel di rambutnya, dan dibelinya setangkai mawar putih, berharap menambah suasana romantis pada malam minggu itu.

Terlihat ramai keluarganya, bekas piring dan makanan bergelatak di mana saja. Rama menemui Rima di belakang rumahnya.
 “Ada apa? Apa yang telah terjadi?”, tanya Rama heran.
      Rima masih menundukan kepalanya, bibirnya masih membungkam dan menahan air matanya.
 “Aku ingin menjelaskan sesuatu yang tak bisa Rima jelaskan padamu.”, kata sahabat itu.  
  “Tentang hubungan kita? Semuanya baik-baik saja, ya, kan?”
                Rima tak menjawab apapun, dia masih membungkam mulutnya.
“Dia telah dilamar oleh seorang laki-laki.”, sontak sahabat. 
“Aku terpaksa, ini semua keinginan Ayah dan Bunda. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku!.”, Rima menangis, air matanya seakan membuyar membasahi pipinya.
Rama seperti di gampar oleh pernyataannya. Sontak tubuh dan nyawanya, semua indra terasa berhenti. Pikirannya seperti dalam dimensi hening serasa sepi kedap tanpa suara. Menusuk, itu terasa sesak dalam dadanya.
“Wow, hebat, ini kabar bahagia. Kau puteri yang baik nan patuh pada Ayah dan Bunda. Ini untukmu, anggap saja ini ucapan selamat atas pertunanganmu hari ini dari seorang kekasih yang sangat mencintaimu (sambil memberikan bunga mawar yang dia bawa). Aku akan datang ke acara pernikahanmu. Hanya satu pintaku, aku tak mau kau menangis saat aku hadir di sana, saat kau menginjak kepercayaan dan harga diriku. Aku ingin melihat kekuatan cintamu nanti di atas pelaminan, aku tak ingin melihat air mata ini jatuh dipipi polesan pengantin nanti (sambil menyeka air mata dipipi Rima).”, kata Rama menguatkan dirinya.
Tepatnya tanggal 10 Oktober 2010 hari bahagia untuk Si Pengantin datang, tapi tidak untuk Rima. Sahabatnya berusaha menguatkan.
“Kau tak boleh menangis, anggap saja ini ibadahmu untuk orang tuamu.”, kata sahabatnya. 
“Aku telah menyakitinya, aku lemah, aku tak berdaya.” 
“Semua pasti baik-baik saja. Kalau kau mencintainya, tunjukkan kekuatan cintamu agar saat kedatangannya air mata ini tidak terjatuh. Kau pasti kuat.” Sahabatnya merangkulnya.
Di pintu pelaminan singgasana kedua mata itu saling bertemu, dan mereka saling bertatapan menahan, merenyuh tetesan air matanya.
“Lihat, aku seorang diri menepati janji terakhir untuk kekasihnya. Semoga kau bahagia dengan Imammu kelak, jadilah Makmum yang patuh. Kebahagiaanmu itu adalah kebahagiaanku. Mungkin cinta kita satu, tapi raga kita tak bisa menyatu. Do’a restu mu hanya pada orang tua mu. Selamat untuk kebahagiaan yang baru.”
-Dado Rama

Untuk Kebahagiaanmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...