Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Kamu dan Hujan

S aya pernah menutup pintu rapat-rapat untuk banyak laki-laki. Tapi bertemu denganmu adalah kebahagiaan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Kebahagiaan untuk menyukai dan menyayangi seseorang lagi. Anda hadir seperti sebait doa yang pernah saya tenggelamkan dalam laut. Tapi, dengan tiba-tiba Tuhan menghadirkan kembali melewati Anda. Anda memberikan suasana, kebersamaan, pelangi dan warna baru yang pernah saya hapus karena lara yang pernah timbul dihati ini. Saya tidak tahu apa tujuan Tuhan menghadirkan sosok sepertimu di dinding kehidupan saya. Tapi yang saya tahu sejak kehadiran Anda, kehampaan saya hilang seperti terbawa ombak di laut, bahkan pasirpun tak dapat menyisakan ampas . Karena ombak telah membawanya pergi. Hujan, menjadi teman awal pertemuan kita. Saya yakin jika hujan turun, dia akan membawamu ke dalam nama saya. Saya akan menyimpan nama saya dalam hujan, sehingga jika dia datang Anda akan selalu mengingat saya. Saya bahagia bersama hujan jika disana juga ada ...

Assalamu'alaikum Yaa Ramadhan

Allah menciptakanmu dengan sempurna, di dalamnya penuh dengan keberkahan. Umat muslim mana yang tidak menunggu kedatanganmu. Mereka begitu sangat bahagia dan antusias untuk bertemu denganmu. Satu bulan, ya, ku kira itu waktu yang sebentar. Mengapa kau tak lama singgah? Sebenarnya aku ingin berlamaan bersamamu, tapi Allah hanya mengizinkan untuk satu bulan yang indah itu. Kami bergandengan tangan untuk menyambutmu. Begitu sangat bahagianya hatiku, bukan, tapi kami yaitu orang-orang muslim yang beriman pada rukun islam ke-empat itu. Terima kasih untuk Allahku, Engkau Maha Indah telah mempertemukan lagi aku dengannya, bulan yang Indah yaitu Bulan Suci Ramadhan. Aku menyambutmu dengan lembut, "Assalamu'alaikum, Yaa Ramadhan". Semoga Allah memberikan Rahmat dan Berkahnya kepada umat muslim di dunia untuk kehadiranmu itu. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Saudaraku. -Salam dari Naina saudari muslim Indonesia

Untuk Mawar Merah yang Layu

Dulu, setangkai mawar merah selalu menyambut mentariku di pagi hari, mengembang mekar merah seakan tersenyum padaku, “Semangat untuk hari ini!” . Tak pernah dia membiarkan aku sendiri, menepis dinding hari-hariku. Bebanku ringan, pundakku tak seberat dulu. Aku tahu dia mencintaiku. Dia menghapus tangisku, dia tak pernah membiarkan air mata ini menggenang dipipiku. Dia ada, saat aku mulai lelah menggenggam mimpi. Dia hadir menjadi pundak untuk menopang lelahku. Piluku hilang, senyuman lebar menghias bibirku lagi, “Jangan sedih, bunga mawarnya lesu, nih!” . Aku tahu dia mencintaiku. Rasa itu masih tetap sama, tak lebih dari sekedar bunga mawar kuning. Kau pernah memohon untuk lebih dari itu. Siapa yang tahu hati seseorang, itu berat ketika harus berbohong bahwa aku mencintaimu juga, tetapi nyatanya berbanding terbalik. Aku tak seburuk itu. Hatimu tak terbalaskan. Ya, kau mulai mengerti itu, bahwa hati tak bisa dipaksakan. Dan bunga mawar kuningku tak akan pernah bisa menjadi mawar m...

Di bawah Kebahagiaanmu (3)

Menemukannya adalah kebahagiaan, mencintainya adalah anugerah. Nanti kau akan tahu apa sebabnya aku membuat statement seperti itu.  "Sudah, jangan kau terus meminum ini, kau tidak sayang pada dirimu sendiri?", katanya seperti merengeh kepadaku. Aku merangkulnya, sambil ku jatuhkan isi yang ada di dalam botol minuman kerasku yang sedang ku genggam. "Bagaimana kau bisa menyayangiku, jika kau tak menyayangi dirimu sendiri. Hidupmu berharga, kau mau minuman keras ini menggerogoti tubuhmu.", wajahnya berubah menjadi sendu. Aku menghentikan langkahku. "Ijinkan aku meminum ini sampai pernikahannya datang. Aku mohon!" Dia hanya menggelengkan kepalanya. "Ijinkan itu untuk kebahagiaanku. Please!" Dengan murung dia meng-ya-kan.  ******** Kebahagiaan, kau akan merasa nyaman, tenang, damai, seperti berayun di bawah pohon rindang, yang dihiasi musim semi bertaburan. Tidak merasakan beban, bahkan bungapun tersenyum memekar padamu. Kal...