Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Kau yang menanam, Kau yang menghancurkan

Indah, saat kau hadir dengan tibanya membawa segala impian dan harapan yang selama ini selalu kunantikan dan selalu kudambakan. Senyuman itu, saat kuingat jelas di depan cerminku aku mnemukan diriku sendiri disana, aku yang menjadi aku yang tidak menjelma menjadi orang lain. Awalnya, kau tanam semua impianku dengan bibit-bibit yang aku harap suatu saat akan tumbuh menjadi bunga, tapi mengapa kau yang merusaknya sendiri. Kau menanam tapi kau yang menghancurkannya juga. Saat kau cibir aku dengan seribu rayuan gombalmu, kau katakan aku yang akan menjadi puteri di pelaminan nanti, tapi mengapa kau yg mencabik omonganmu sendiri. Dimana kau simpan kata-kata itu dengan rapih? Dibawah kakimu yang sehingga tidak ada harganya? Serendah itukah, tuan? Aku bukan wanita bodoh yang begitu saja menerima lelaki yg tidak pantas aku jadikan imam dalam hidupku. Saat kulihat kemesraan itu dalam gambar, apa yg ingin kamu katakan lagi, mengelah dengan seribu omong kosongmu? Cukup, aku sudah l...

Jarak

Jarak. Setiap hari selalu ku telan kata itu dalam-dalam agar tidak membuat lara dihati. Kau yang begitu jauh disana dengan tempatmu, dan aku disini dengan tempatku. Kesendirian yang selalu mengelabuiku selalu menghanyutkanku dalam kesepian dan kerinduan. Pertemuan adalah hal yang paling aku tunggu, karena rindu hanya bisa terobati oleh satu kata yaitu "bertemu", menurutku tidak ada penawar lain yang paling jitu kecuali hal satu itu.  Suara diujung telefonmu yang selalu menjadi penawar rindu sementara, Ya, sementara! setelah suaramu itu tertutup oleh sambungan telefon, rindu itu muncul lagi. Suara yang terkadang dalam selipan bincangan itu kau alunkan suara merdumu dengan menyanyikan lagu kesukaanku, dan menjelma masuk dalam mimpi tiap malamku. Rasanya aku ingin selalu bermimpi dan tertidur jika itu selalu bersamamu. Pesan singkat yang selalu hinggap di ponselku yang menjadi selingan rindu sementara, Ya lagi-lagi sementara! Pesan yang terkadang menilaiku terlihat bodoh di d...

Kau Berubah

Pertemuan terakhir, saat kau bonceng aku dengan kendaraan kesayanganmu itu, aku rasa setelah itu kau pergi entah kemana. Kegelisahan yang selalu menghantui dari setiap malamku, kenapa seperti lem superglue yang cukup sulit untuk dihilangkan, "menempel". Kabarmupun datang seperti angin, berhembus semaunya, melewat seperti keinginannya, "hussh" pergi entah kemana lagi. Ditengah kesibukanmu sepertinya engkau mau tak mau menghinggapkan kabar ke dalam hariku, kau berubah seperti es, dingin!! Kau rasa itu mudah bagi seorang perempuan, tanpa kabar satu hari dari seorang kekasih yang dia cintai. Kamu salah! Aku seperti kehilangan sosok pangeran yang dulu senantiasa bertegur sapa dengan tutur manisnya, canda dalam setiap selipan perkataanya, tingkah yang konyol yang membuat mulutku terbuka lebar dengan segudang kebahagian yang selalu kuucap syukur di dalamnya. Lalu saat ini kamu kemana, begitu saja pergi tidak meninggalkan satu katapun? Angkuh! Benar kata mereka kau angku...