Ada
yang lebih menyakitkan daripada perpisahan, yaitu kehilangan. Bayangkan
saja, dulu-- dia selalu hadir dalam setiap harimu, mengucapkan selamat
pagi, selamat siang, selamat tidur "sweet dream". Tetapi, jika itu
menjadi sebuah kebiasaan-- lalu tiba-tiba menghilang, kamu yakin bisa
tanpa dia. Apalagi sudah bertahun-tahun kamu menggenggam tangannya, kamu
tahu kebiasaannya, kamu tahu kelemahannya, kelebihannya, kesukaannya,
ketidaksukaannya, itu menyakitkan, coba ingatlah sebentar. Kamu yang
biasa diantar atau dijemput di sekolah, di tempat kerja, di rumah
temanmu, atau bahkan yang lainnya-- itu pengorbanan, seharusnya kamu
tahu betul itu, dia meluangkan waktu untuk menatap kamu, menyapa kamu,
tersenyum, bersenda gurau-- hanya untuk kamu. Senyum manisnya
menyambutmu, berharap lelahmu hilang dalam setiap mata pelajaran yang
berputar seharian diotakmu, atau bahkan meredakan setress dari tumpukan
file-file dikerjaanmu, cacian maki dari atasanmu. Tapi, dia hadir saat
kamu merasa beban dunia berada dipundakmu, ya.. walaupun sebenarnya
tukang ojeg kalau masalah antar-jemput mungkin paling mahir, tapi apakah
dia meminta uang bensin, aku rasa.. tidak. Bukan begitu?
Jangan
mendahulukan egomu, setiap orang pasti mempunyai ego-- tapi aku yakin,
seorang yang berfikir cerdas selalu merendam pertengkaran, dan lebih
mengutamakan komitmen. Ayolah, kamu paling bisa membahagiakannya, ajak
dia duduk bersama, bercengkrama, tatap matanya, sentuh hatinya,
bicaralah baik-baik-- aku yakin semuanya akan kembali baik. Ingat, kamu
lebih kuat dari apa yang kamu fikirkan.
Komentar
Posting Komentar