Langsung ke konten utama

Ajaklah Duduk Bersama

Ada yang lebih menyakitkan daripada perpisahan, yaitu kehilangan. Bayangkan saja, dulu-- dia selalu hadir dalam setiap harimu, mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat tidur "sweet dream". Tetapi, jika itu menjadi sebuah kebiasaan-- lalu tiba-tiba menghilang, kamu yakin bisa tanpa dia. Apalagi sudah bertahun-tahun kamu menggenggam tangannya, kamu tahu kebiasaannya, kamu tahu kelemahannya, kelebihannya, kesukaannya, ketidaksukaannya, itu menyakitkan, coba ingatlah sebentar. Kamu yang biasa diantar atau dijemput di sekolah, di tempat kerja, di rumah temanmu, atau bahkan yang lainnya-- itu pengorbanan, seharusnya kamu tahu betul itu, dia meluangkan waktu untuk menatap kamu, menyapa kamu, tersenyum, bersenda gurau-- hanya untuk kamu. Senyum manisnya menyambutmu, berharap lelahmu hilang dalam setiap mata pelajaran yang berputar seharian diotakmu, atau bahkan meredakan setress dari tumpukan file-file dikerjaanmu, cacian maki dari atasanmu. Tapi, dia hadir saat kamu merasa beban dunia berada dipundakmu, ya.. walaupun sebenarnya tukang ojeg kalau masalah antar-jemput mungkin paling mahir, tapi apakah dia meminta uang bensin, aku rasa.. tidak. Bukan begitu?
Jangan mendahulukan egomu, setiap orang pasti mempunyai ego-- tapi aku yakin, seorang yang berfikir cerdas selalu merendam pertengkaran, dan lebih mengutamakan komitmen. Ayolah, kamu paling bisa membahagiakannya, ajak dia duduk bersama, bercengkrama, tatap matanya, sentuh hatinya, bicaralah baik-baik-- aku yakin semuanya akan kembali baik. Ingat, kamu lebih kuat dari apa yang kamu fikirkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...