Langsung ke konten utama

Sahabatmu

Menjalani suatu hubungan itu bukan hal yang mudah, perlu ditanamkan sebuah kepercayaan dan kejujuran. Awalnya aku hanya anggap itu hal biasa dan sewajarnya, kau pria yang selama ini ku miliki bersahabat karib dengan seorang wanita, yang entah bagaimana sosoknya akupun tidak mengetahui. Aku hanya bisa melihatnya difoto melalui jejaring sosial, dan aku sempat beberapa kali memperhatikan bagaimana kedekatan mereka di dunia maya. Aku tak menyangka hal itu begitu sangat membakar hatiku. Ya, aku akui aku cemburu.
Aku mengerti Tuan, kau hanya menganggapnya sahabat karib yang hanya sebagai tempat berbagi cerita suka dan duka. Apa akan selalu seperti itu bertahan lama? Aku rasa tidak, setelah aku lihat gurauan kamu dengannya di dinding akunmu. Apalagi kamu tahu kalau dia sempat mengagumimu. 
Hubungan kita bukan hanya satu atau dua tahun, beribu hari pernah kita lewati. Tapi semenjak kedatangannya, aku tak melihat diri kamu yang pernah aku kenal, bahkan perhatianmu mengurang. Aku sempat menghiraukan itu, mungkin kamu mulai bosan. Ya, aku pahami itu. Tapi waktu ke waktu dan semakin lama, aku melihat kamu berubah. Dimana kamu selalu menceritakannya dan membanggakannya disetiap percakapan kita. Maksud kamu apa, ingin membuat aku cemburu? Bisakah sekali saja kau memalingkan cerita tentangnya disetiap pertemuan kita. Itu membuat moodku terjatuh drastis. Lagi lagi dan lagi lagi.. Kita selalu mempermasalahkan dan mendebatkan hal yang sama tentang wanita itu, sahabatmu yang penuh dengan kata "mengagumkan". Mengertilah Tuan, aku ini wanitamu. Sedekat apapun kau dengan wanita hargailan aku sebagai kekasihmu yang mencintaimu. Karena puingan cemburu itu pasti ada. Mengertilah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...