Langsung ke konten utama

Pemeran Hatiku

Ditengah malam ini bersama dengan turunnya ribuan tetesan air hujan membawaku menembus dinding kerinduan. Sejuta kerinduan yang berputar pada lautan masa lalu yaitu seseorang yang pernah sempat singgah dihati ini, yang pernah merasuk kedalam jiwa ini dan pernah berusaha menjadi pemeran hatiku yang terbaik seperti yang aku inginkan. Dia seorang pria berkulit putih, bermata sipit seperti orang campuran chinese dan jawa. Kata katanya yang penuh dengan kelembutan dan tingkah lakunya dengan segudang kasih sayang membawaku selalu dalam langit kebahagiaan. Tak pernah sedikitpun dia berlaku menyakitiku, mengecewakanku bahkan dia selalu menjaga air mataku agar tidak satupun menetes dimata indahku.
Tapi hari itu, dimana keegoisanku menjelma dalam diriku. Sehingga aku terperangkap dalam hubungan penghianatan yang membuatku terjatuh dalam lubang kesalahan. Tidak satupun kau mau mendengar apa yang inginku jelaskan, kau tolak mentah mentah. Dan akhirnya kamu memilih menggerakan kaki berjalan pergi seakan berlayar menjauhiku. Ya, Jauh dan semakin jauh. 
Waktu ke waktu kesalahan itu selalu merasuki fikiranku. Merasa akulah yang paling jahat, menyianyiakan orang yang baik, yang selalu menjadi peran utama. Bahkan sekarang, kau masih saja menjadi pemeran hatiku walaupun ragamu tak kumiliki. Mengapa aku harus melepaskan orang yang benar benar baik? Aku bodoh melakukan hal itu. Padahal aku tahu kau lebih baik darinya. Sungguh Tuan aku menyesal. 
Aku datang padamu dengan seribu maaf, tapi kau malah memandang lurus kedepan bersikap acuh seakan tak pernah mengenalku. Aku semakin saja bersalah, malamkupun tak pernah menjadi siang, semua kosong dan hampa, aku seakan tak berarti apa apa. Aku rindu, sungguh rindu berharap kau kembali baik padaku dan tetap menjadi pemeran hatiku yang utama. Hatiku masih berjuang untukmu Tuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...