Ditengah malam ini bersama dengan turunnya ribuan tetesan air hujan membawaku menembus dinding kerinduan. Sejuta kerinduan yang berputar pada lautan masa lalu yaitu seseorang yang pernah sempat singgah dihati ini, yang pernah merasuk kedalam jiwa ini dan pernah berusaha menjadi pemeran hatiku yang terbaik seperti yang aku inginkan. Dia seorang pria berkulit putih, bermata sipit seperti orang campuran chinese dan jawa. Kata katanya yang penuh dengan kelembutan dan tingkah lakunya dengan segudang kasih sayang membawaku selalu dalam langit kebahagiaan. Tak pernah sedikitpun dia berlaku menyakitiku, mengecewakanku bahkan dia selalu menjaga air mataku agar tidak satupun menetes dimata indahku.
Tapi hari itu, dimana keegoisanku menjelma dalam diriku. Sehingga aku terperangkap dalam hubungan penghianatan yang membuatku terjatuh dalam lubang kesalahan. Tidak satupun kau mau mendengar apa yang inginku jelaskan, kau tolak mentah mentah. Dan akhirnya kamu memilih menggerakan kaki berjalan pergi seakan berlayar menjauhiku. Ya, Jauh dan semakin jauh.
Waktu ke waktu kesalahan itu selalu merasuki fikiranku. Merasa akulah yang paling jahat, menyianyiakan orang yang baik, yang selalu menjadi peran utama. Bahkan sekarang, kau masih saja menjadi pemeran hatiku walaupun ragamu tak kumiliki. Mengapa aku harus melepaskan orang yang benar benar baik? Aku bodoh melakukan hal itu. Padahal aku tahu kau lebih baik darinya. Sungguh Tuan aku menyesal.
Aku datang padamu dengan seribu maaf, tapi kau malah memandang lurus kedepan bersikap acuh seakan tak pernah mengenalku. Aku semakin saja bersalah, malamkupun tak pernah menjadi siang, semua kosong dan hampa, aku seakan tak berarti apa apa. Aku rindu, sungguh rindu berharap kau kembali baik padaku dan tetap menjadi pemeran hatiku yang utama. Hatiku masih berjuang untukmu Tuan.
Komentar
Posting Komentar