Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu.
Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois.
Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa kamu adalah seseorang yang lebih special dibandingkan dengan kekasihku. Senyummu, candamu, ceriamu semua pengobat disaatku gundah, kau merubah hitam menjadi putih kembali. Tuan, seandainya kamu tahu perasaanku, aku ingin kamu selalu ada disisiku menemani disetiap bangun dan tidurku. Aku mengagumimu dari dalam hati ini, aku diam karena aku tahu, saat ini diamku adalah baik untuku dan kamu, sahabatku.
Untukmu "pangeran kodok" ku.
Komentar
Posting Komentar