Langsung ke konten utama

Kau yang Dirantau

Bersama datangnya senja, burung burung beterbangan diatas lautan biru seakan meninggalkan lelahnya siang mencari makan. Wanita itu terlihat pilu disisi pantai merasakan indahnya suasana senja saat itu. Rupanya dia menunggu sang kekasih yang jauh dirantau, menunggu akan kehadiran disisinya kembali. Seribu kerinduan selalu dia telan dalam dalam, dan dia simpan di dinding hati berharap rindu yang menjadi pilu itu segera terobati.
Angin yg berhembus dari laut, mengayun ayunkan rambutnya yang terurai panjang. Dia masih menatap laut dengan mata sendu, membayangkan betapa indahnya lautan kebahagiaan saat sang kekasih berada disisinya, diapun tersenyum kecil. Dia teringat kata kata yang bertelaga madu dari bibir sang kekasih dengan segenggam bunga mawar merah yang selalu membuatnya tersenyum lebar dan sebentuk es krim yang menambah kemanisan ditengah keromansaan setiap kejadian. Bunga mawar yang dia berikan kini sudah tak berbentuk, entah sudah berapa lama pria itu meninggalkannya sampai bunga mawar yang dia simpan baik baik layu seperti tak berdaya. Namun hatinya tetap membentuk satu hanya untuk sang kekasih yang jauh disana.
Jarak begitu menyiksanya, entah bisa bertahan sampai kapan rasa itu. Kegundahan selalu menjadi hiasannya setiap malam, apakah dia tetap menjaga kesetiaan seperti janjinya sebelum dia melangkah meninggalkan pulau, atau dia sudah lupa bahkan menyilang janji janjinya. Itulah pertanyaan yang sering muncul dihati wanita yang ditinggalkan kekasihnya pergi. Berharap waktu menjawab rindu dan sang kekasih segera dalam pelukannya. Pilu memang pilu rasanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...