Langsung ke konten utama

Bunga Mawar

Sudah lama laki laki itu mengincarnya, entah mungkin tak bisa terhitung waktu. Laki laki yang gemar membaca hampir larut malam diperpustakaan yang selalu bergulat dengan buku buku, tetapi dia masih saja sempat mencuri perhatian dambaan hatinya, yaitu wanita yang rambutnya selalu terurai panjang yang tiada hari tanpa lepas dari bando pita dan kacamatanya yang besar.
Diperpustakaan itu mereka sering bersenda gurau, membagi cerita buku yang mereka baca. Dan mereka mempunyai kegemaran yang sama yaitu bergulat dengan buku buku. Sampai dipenghujung waktu laki laki itu tak bisa bertahan atas perasaannya, rasanya mungkin sudah setumpuk gudang hingga tak mampu lagi dia bendung. Dan akhirnya waktu itu datang, waktu dimana dia selalu menunggu dalam setiap desiran nafasnya yaitu menyatakan perasaan.
Malam itu dengan digenggamnya seikat bunga mawar dia berdandan rapi, memakai wewangian agar terasa PD. Dengan kemeja kotak kotak berwarna merah dia datang kesebuah restoran. Ternyata dambaan hatinya sudah menunggu dimeja makan. Wanita itu terlihat sangat anggun dengan gaun merah ditubuhnya, tetap memakai bando tetapi dia melepas kacamatanya. Nan anggun sekali. Warna merah yang mereka pakai entah itu hanya kebetulan atau mereka mempunyai ikatan batin.
Melangkah pelan laki laki itu menghampiri dengan sejuta kegerogian yang bergumam di dalam dirinya, jantungnya berdetak begitu kencang seakan menambah kegerogiannya. Laki laki itu menghela nafas sebentar berharap ada kepercayaan diri untuk mengungkapkan rasa. Bersamaan Dengan kepercayaan dirinya dia menyatakan cinta. Sungguh besar keyakinannya pada wanita itu bahwa dia akan mengatakan "Ya". Wanita itu terlihat gugup menjawabnya, dengan menunggu sekitar satu menit dia langsung menjawab "Ya aku mau!". Mendengar jawabannya semua terhempas lepas. Seperti ada musik musik romansa dihatinya mengalun dengan indah, matanya berbinar memancarkan bintang bintang dilangit malam itu. Seikat bunga mawar yang dia berikan menjadi saksi bahwa penantiannya tak sia sia. Semua terbalaskan, hatinya mekar mewangi seketika. Wanitanyapun tersenyum menawan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...