Terlihat bulan penuh memekar, cahayanya yang memantul kemataku memancarkan keindahan yang tak pernah tertidur lelap dalam setiap malam. Angin sepoy-sepoy yang berhembus melambaikan daun-daun yang terlihat di depan mataku seperti mereka ingin membisikkan sesuatu "Kamu harus tetap baik baik!". Benar, malam itu aku seakan dilanda ribuan kegelisahan yang sedang meraja di hatiku. Lagi lagi tentang dia, tak tahu kenapa fikiran negatif yang selalu menempel di otakku ketika lelakiku menyebutkan nama wanita itu. Ya, Sahabatnya!
Tak pernah bosan dia menyanjung nama wanita itu dibibirnya, "Si Wanita Mengagumkan". Hebat! Tak ada lelahnya pujian itu dicibirkan. Aku telan ludahku dalam dalam dengan penuh kejengkelan, "Sudah sudah!". Berharap nama yang mengiang ditelingaku itu segera usai diceritakan.
Aku tahu Tuan, aku kira wanita itu lebih baik dariku. Wanita yang katanya terlihat anggun, ucapannya yang selalu menenangkan hatimu dengan kedewasaanya dan dia yang selalu jadi sandaran kegelisahanmu. Mungkin aku tak sesempurna itu. Dan aku hanya apa, pembuat masalah? Dimana setiap ada masalah kamu lari kepadanya dan bersandar dipundaknya.
Yasudahlah Tuan, memang kita sudah tak sejalan. Tak pernah aku lihat senyuman lebar dibibirmu lagi dari setiap pertemuan kita akhir akhir ini. Aku sudah lelah, mungkin tugasku mencintaimu dan menjagamu sudah selesai. Aku salah jika aku harus tetap memperjuangkanmu, sedangkan kamu hanya bisa jalan ditempat tak mau menggenggam tanganku bersamaan. Aku akhiri dengan perpisahan ini. Selamat tinggal untuk orang yang pernah menyempurnakan hatiku.
Komentar
Posting Komentar