Langsung ke konten utama

Sahabatmu Part 2

Terlihat bulan penuh memekar, cahayanya yang memantul kemataku memancarkan keindahan yang tak pernah tertidur lelap dalam setiap malam. Angin sepoy-sepoy yang berhembus melambaikan daun-daun yang terlihat di depan mataku seperti mereka ingin membisikkan sesuatu "Kamu harus tetap baik baik!". Benar, malam itu aku seakan dilanda ribuan kegelisahan yang sedang meraja di hatiku. Lagi lagi tentang dia, tak tahu kenapa fikiran negatif yang selalu menempel di otakku ketika lelakiku menyebutkan nama wanita itu. Ya, Sahabatnya!
Tak pernah bosan dia menyanjung nama wanita itu dibibirnya, "Si Wanita Mengagumkan". Hebat! Tak ada lelahnya pujian itu dicibirkan. Aku telan ludahku dalam dalam dengan penuh kejengkelan, "Sudah sudah!". Berharap nama yang mengiang ditelingaku itu segera usai diceritakan.
Aku tahu Tuan, aku kira wanita itu lebih baik dariku. Wanita yang katanya terlihat anggun, ucapannya yang selalu menenangkan hatimu dengan kedewasaanya dan dia yang selalu jadi sandaran kegelisahanmu. Mungkin aku tak sesempurna itu. Dan aku hanya apa, pembuat masalah? Dimana setiap ada masalah kamu lari kepadanya dan bersandar dipundaknya.
Yasudahlah Tuan, memang kita sudah tak sejalan. Tak pernah aku lihat senyuman lebar dibibirmu lagi dari setiap pertemuan kita akhir akhir ini. Aku sudah lelah, mungkin tugasku mencintaimu dan menjagamu sudah selesai. Aku salah jika aku harus tetap memperjuangkanmu, sedangkan kamu hanya bisa jalan ditempat tak mau menggenggam tanganku bersamaan. Aku akhiri dengan perpisahan ini. Selamat tinggal untuk orang yang pernah menyempurnakan hatiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...