Langsung ke konten utama

Tersenyumlah di Surga, Priaku

Masih jelas dimataku seliran senyum terakhirmu malam itu. Saat kamu kirimkan serangkai bunga mawar merah kesukaanku yang menambah keindahan malam dibawah bintang bintang. Kau katakan, kau akan selalu ada disampingku dalam suka dan dukaku. Kau katakan bahwa kau akan selalu menyayangi ku seperti kau menyayangi Ibumu. Aku tak tahu, sungguh tak pernah ku sangka. Kata manis yang kau lontarkan malam itu adalah hari terakhir ku mendengar suaramu. Bagaimana aku bisa percaya? Mengapa aku harus kehilanganmu secepat ini, kenapa? Bagaimana kau menepati janji-janjimu? Kamu katakan kau akan menyandingku tahun nanti. Kau buat seribu impian untuk masa depan kita kelak. Bagaimana kau akan memenuhi semua itu, kesatriaku? 
Sungguh aku sangat terpukul saat aku dengar kabar dari Ibumu, kau telah meninggalkan orang-orang yang menyayangimu termasuk aku, harapan dan impian yg telah kita rangkai dahulu. Mengapa kau pergi secepat ini tanpa pamit? Aku sungguh sangat terpukul dengan kabar itu. Penyakit yang selama ini kamu pendam sendiri kau tutup dengan keriangan dan candaanmu, yang membawamu menghadap-Nya.
Priaku yang sangat aku banggakan, memang sungguh berat aku relakan untuk kepergianmu ditengah kebahagiaan ini, dimana kau meninggalkanku tanpa ucapan selamat tinggal. Aku memang sangat menyayangimu. Tapi aku tahu priaku, Tuhan lebih menyayangimu sehingga sekarang kamu sudah ada disisi-Nya. Dan aku percaya Tuhan akan menjagamu dengan baik disana. Tersenyumlah selalu di dalam surga, doaku selalu bersamamu. Aku menyayangimu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...