Bukan hal yang mudah ketika aku harus melihat kamu dengan wanita itu. Wanita yang dulu pernah masuk kedalam hubungan kita dimana kamu memilih meninggalkan aku dan pergi menggenggam tangannya di depan mataku. Kau jahat, Tuan! Kau simpan hatimu dimana. Aku juga wanita yang punya hati, yang bisa sakit, terjatuh dan terpuruk jika hatinya dilukai. Harusnya kau tau itu Tuan. Ya aku lemah, aku tak berdaya, aku tak kuasa apa-apa tanpamu, aku akui itu. Aku tak tahu harus mencari jalan kemana, harus pergi kemana dan kearah mana, semuanya kosong dan hampa Tuan. Ya, aku serasa kehilangan diriku sendiri karena separuh jiwaku ada dalam dirimu. Aku terjatuh semakin dalam dan dalam.
Hari itu masih ku ingat, hari dimana ulang tahun ku yang seharusnya aku bisa tertawa lepas digenap umurku dua puluh tahun. Jantungku tersentak hebat saat kulihat seorang laki-laki berjalan menghampiriku dengan membawa seikat bunga mawar merah, dengan rambut rapinya yg tertata gel. Ternyata dia orang yang pernah menghianatiku. Kamu datang lagi tanpa muka malumu. Lukaku timbul sesaat kulihat wajahmu, sebenarnya sudah kubuang jauh jauh luka itu semenjak dua tahun lalu tetapi sakit itu tumbuh lagi. Dengan mudahnya kau ucap kata maafmu dan kau ingin kembali ke kehidupan ku untuk memperbaiki semuanya. Dimana katanya wanitamu pergi meninggalkanmu untuk lelaki lain. Aku bukan wanita bodoh Tuan. Aku punya otak dan punya hati, seandainya kamu tahu saat itu aku seperti apa, seandainya kamu bisa rasakan menjadi aku itu bagaimana, aku yakin kamu tak sekuat itu. Tuan, seharusnya kamu menyadari itulah hukum alam. Bahwa Tuhan telah Mengadili Aku, wanita yang pernah kau sakiti.
Komentar
Posting Komentar