Langsung ke konten utama

Saat Kau Meninggalkanku

Bukan hal yang mudah ketika aku harus melihat kamu dengan wanita itu. Wanita yang dulu pernah masuk kedalam hubungan kita dimana kamu memilih meninggalkan aku dan pergi menggenggam tangannya di depan mataku. Kau jahat, Tuan! Kau simpan hatimu dimana. Aku juga wanita yang punya hati, yang bisa sakit, terjatuh dan terpuruk jika hatinya dilukai. Harusnya kau tau itu Tuan. Ya aku lemah, aku tak berdaya, aku tak kuasa apa-apa tanpamu, aku akui itu. Aku tak tahu harus mencari jalan kemana, harus pergi kemana dan kearah mana, semuanya kosong dan hampa Tuan. Ya, aku serasa kehilangan diriku sendiri karena separuh jiwaku ada dalam dirimu. Aku terjatuh semakin dalam dan dalam.
Hari itu masih ku ingat, hari dimana ulang tahun ku yang seharusnya aku bisa tertawa lepas digenap umurku dua puluh tahun. Jantungku tersentak hebat saat kulihat seorang laki-laki berjalan menghampiriku dengan membawa seikat bunga mawar merah, dengan rambut rapinya yg tertata gel. Ternyata dia orang yang pernah menghianatiku. Kamu datang lagi tanpa muka malumu. Lukaku timbul sesaat kulihat wajahmu, sebenarnya sudah kubuang jauh jauh luka itu semenjak dua tahun lalu tetapi sakit itu tumbuh lagi. Dengan mudahnya kau ucap kata maafmu dan kau ingin kembali ke kehidupan ku untuk memperbaiki semuanya. Dimana katanya wanitamu pergi meninggalkanmu untuk lelaki lain. Aku bukan wanita bodoh Tuan. Aku punya otak dan punya hati, seandainya kamu tahu saat itu aku seperti apa, seandainya kamu bisa rasakan menjadi aku itu bagaimana, aku yakin kamu tak sekuat itu. Tuan, seharusnya kamu menyadari itulah hukum alam. Bahwa Tuhan telah Mengadili Aku, wanita yang pernah kau sakiti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...