Sudah kusimpan jauh jauh kenangan ku bersama mu, laki laki berhidung mancung dengan tubuhnya yang tegak dan berbadan kekar. Tapi siang tadi kamu beranjak menemuiku ditengah kesibukanku dengan tumpukan tumpukan tugas study ku. Aku tak tahu maksud kamu apa tiba tiba datang mengabariku dan mengajaku bertemu dengan mata indahmu lagi.
Siang itu aku memantapkan diri untuk bisa bertatapan dengan matamu lagi, orang yang pernah hadir dihidupku dan sempat menjadi seseorang yang aku banggakan. Ditengah keramaian kau mengajaku makan siang. Aku tak tahu aku harus bahagia atau sedih mendengar kabar berita itu, perasaanku gundah gulana ketika kau menyodorkan kartu pernikahanmu dengan wanita itu. Ya, wanita pilihan orangtua mu. Mungkin aku bisa membuat permainan pada senyumanku siang itu, berusaha tetap tersenyum lebar mendengar berita pernikahanmu. Tapi seandainya kamu tahu, seribu kekecewaan yang dicampuri kesedihan kusimpan dalam dalam dibalik hati ini. Hancur! Ya benar, melebur berkemping keping hati saat itu.
Aku tahu Tuan, aku sangat mengerti perpisahan lima bulan yang lalu bukan keinginan kamu atau kita, tapi itu semua keinginan orang tuamu. Mungkin orang tuamu mempunyai wanita yang lebih baik dibandingkan aku. Ya, aku hanya wanita yang sibuk dengan tulisan tulisan imajinasinya. Punya apa aku ini! Aku berusaha menerima keputusan itu dimana aku lebih memilih melepaskanmu dan merelakanmu dengannya. Aku lakukan semua demi kebaikanmu. Aku yakin dia bisa lebih membahagiakanmu, bisa lebih menjagamu, bisa lebih memahamimu dibandingkan aku. Jangan pernah menoleh kepadaku lagi Tuan, lakukan lah apa yang harus kamu lakukan, hadapi semua kenyataan yang telah terjadi. Jangan kau hiraukan aku wanita yang tak punya apa apa yang hanya mempunyai kasih dan sayang yang tulus untukmu. Sayangi dia, kasihi dia dan cintai dia seperti dulu kamu pernah menyayangi ku. Lakukanlah!
Komentar
Posting Komentar