Langsung ke konten utama

Demi Kebaikanmu

Sudah kusimpan jauh jauh kenangan ku bersama mu, laki laki berhidung mancung dengan tubuhnya yang tegak dan berbadan kekar. Tapi siang tadi kamu beranjak menemuiku ditengah kesibukanku dengan tumpukan tumpukan tugas study ku. Aku tak tahu maksud kamu apa tiba tiba datang mengabariku dan mengajaku bertemu dengan mata indahmu lagi.
Siang itu aku memantapkan diri untuk bisa bertatapan dengan matamu lagi, orang yang pernah hadir dihidupku dan sempat menjadi seseorang yang aku banggakan. Ditengah keramaian kau mengajaku makan siang. Aku tak tahu aku harus bahagia atau sedih mendengar kabar berita itu, perasaanku gundah gulana ketika kau menyodorkan kartu pernikahanmu dengan wanita itu. Ya, wanita pilihan orangtua mu. Mungkin aku bisa membuat permainan pada senyumanku siang itu, berusaha tetap tersenyum lebar mendengar berita pernikahanmu. Tapi seandainya kamu tahu, seribu kekecewaan yang dicampuri kesedihan kusimpan dalam dalam dibalik hati ini. Hancur! Ya benar, melebur berkemping keping hati saat itu.
Aku tahu Tuan, aku sangat mengerti perpisahan lima bulan yang lalu bukan keinginan kamu atau kita, tapi itu semua keinginan orang tuamu. Mungkin orang tuamu mempunyai wanita yang lebih baik dibandingkan aku. Ya, aku hanya wanita yang sibuk dengan tulisan tulisan imajinasinya. Punya apa aku ini! Aku berusaha menerima keputusan itu dimana aku lebih memilih melepaskanmu dan merelakanmu dengannya. Aku lakukan semua demi kebaikanmu. Aku yakin dia bisa lebih membahagiakanmu, bisa lebih menjagamu, bisa lebih memahamimu dibandingkan aku. Jangan pernah menoleh kepadaku lagi Tuan, lakukan lah apa yang harus kamu lakukan, hadapi semua kenyataan yang telah terjadi. Jangan kau hiraukan aku wanita yang tak punya apa apa yang hanya mempunyai kasih dan sayang yang tulus untukmu. Sayangi dia, kasihi dia dan cintai dia seperti dulu kamu pernah menyayangi ku. Lakukanlah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...