Langsung ke konten utama

Bahagiamu, Bahagiaku!

Malam ini dimana angin berhembus sepoy-sepoy membawaku dalam seribu kenangan, dimana aku masih menjadi satu bunga terindahmu yang kau jaga dengan baik dengan pedang disakumu untuk melindungiku. Laki-laki berkacamata dengan berambut ikal itu datang dalam sejuta ingatanku ditengah kedamaian malam ini. Kamu sudah berubah Tuan, kini kacamatamu sudah kamu lepas dan rambut ikalmu sudah tertata rapih, sekarang kamu sudah bisa menjaga diri dengan baik. Keharuman parfum tadi siang membawaku dalam buaian kenangan tiga tahun yang lalu dimana kita masih satu menjalin sebuah hubungan yang tak pernah bisa berujung kebahagiaan. Kamu yang memakai kalung salib dilehermu dengan mengepalkan tangan untuk bedoa, dan sedangkan aku bersujud dan menyimpuhkan tangan pada-Nya. Ya benar, hal itu yang tidak bisa menyatukan kita. Tuhan kita satu, tetapi cara kita berbeda.
Aku tahu Tuan sekarang kamu sudah bahagia dengan wanita pilihanmu itu, wanita yang katanya rela memutuskan urat nadinya untukmu, wanita yang lebih punya segalanya dibandingkan aku. Aku turut bahagia Tuan atas beritamu tadi siang, minggu nanti kamu akan dipasangkan cincin di jari manismu, sungguh itu suatu kejadian yang kita impikan dulu yang hanya kita simpan dalam sebuah khayalan dan kita buang jauh dilubuk hati yang terdalam.
Terimakasih Tuan untuk pernah singgah dihati ini, berbagi canda tawa serta suka duka yang kau warnai disetiap harinya, sikap dan kebaikanmu yang menjadikan diriku pribadi yang lebih baik. Terimakasih pernah sempat meneteskan manisnya suatu  hubungan dalam hidupku, keindahan itu takan pernah aku lupakan. Berbahagialah dengannya, jangan khawatirkan aku. Aku bahagia jika kamu bahagia, karena bahagiamu adalah bahagiaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...