Malam ini dimana angin berhembus sepoy-sepoy membawaku dalam
seribu kenangan, dimana aku masih menjadi satu bunga terindahmu yang kau jaga
dengan baik dengan pedang disakumu untuk melindungiku. Laki-laki berkacamata
dengan berambut ikal itu datang dalam sejuta ingatanku ditengah kedamaian malam
ini. Kamu sudah berubah Tuan, kini kacamatamu sudah kamu lepas dan rambut
ikalmu sudah tertata rapih, sekarang kamu sudah bisa menjaga diri dengan baik.
Keharuman parfum tadi siang membawaku dalam buaian kenangan tiga tahun yang
lalu dimana kita masih satu menjalin sebuah hubungan yang tak pernah bisa
berujung kebahagiaan. Kamu yang memakai kalung salib dilehermu dengan
mengepalkan tangan untuk bedoa, dan sedangkan aku bersujud dan menyimpuhkan
tangan pada-Nya. Ya benar, hal itu yang tidak bisa menyatukan kita. Tuhan kita
satu, tetapi cara kita berbeda.
Aku tahu Tuan sekarang kamu sudah bahagia dengan wanita
pilihanmu itu, wanita yang katanya rela memutuskan urat nadinya untukmu, wanita
yang lebih punya segalanya dibandingkan aku. Aku turut bahagia Tuan atas
beritamu tadi siang, minggu nanti kamu akan dipasangkan cincin di jari manismu,
sungguh itu suatu kejadian yang kita impikan dulu yang hanya kita simpan dalam
sebuah khayalan dan kita buang jauh dilubuk hati yang terdalam.
Terimakasih Tuan untuk pernah singgah dihati ini, berbagi
canda tawa serta suka duka yang kau warnai disetiap harinya, sikap dan
kebaikanmu yang menjadikan diriku pribadi yang lebih baik. Terimakasih pernah
sempat meneteskan manisnya suatu
hubungan dalam hidupku, keindahan itu takan pernah aku lupakan.
Berbahagialah dengannya, jangan khawatirkan aku. Aku bahagia jika kamu bahagia,
karena bahagiamu adalah bahagiaku.
Komentar
Posting Komentar