Masih jelas dimataku seliran senyum terakhirmu malam itu. Saat kamu kirimkan serangkai bunga mawar merah kesukaanku yang menambah keindahan malam dibawah bintang bintang. Kau katakan, kau akan selalu ada disampingku dalam suka dan dukaku. Kau katakan bahwa kau akan selalu menyayangi ku seperti kau menyayangi Ibumu. Aku tak tahu, sungguh tak pernah ku sangka. Kata manis yang kau lontarkan malam itu adalah hari terakhir ku mendengar suaramu. Bagaimana aku bisa percaya? Mengapa aku harus kehilanganmu secepat ini, kenapa? Bagaimana kau menepati janji-janjimu? Kamu katakan kau akan menyandingku tahun nanti. Kau buat seribu impian untuk masa depan kita kelak. Bagaimana kau akan memenuhi semua itu, kesatriaku?
Sungguh aku sangat terpukul saat aku dengar kabar dari Ibumu, kau telah meninggalkan orang-orang yang menyayangimu termasuk aku, harapan dan impian yg telah kita rangkai dahulu. Mengapa kau pergi secepat ini tanpa pamit? Aku sungguh sangat terpukul dengan kabar itu. Penyakit yang selama ini kamu pendam sendiri kau tutup dengan keriangan dan candaanmu, yang membawamu menghadap-Nya.
Priaku yang sangat aku banggakan, memang sungguh berat aku relakan untuk kepergianmu ditengah kebahagiaan ini, dimana kau meninggalkanku tanpa ucapan selamat tinggal. Aku memang sangat menyayangimu. Tapi aku tahu priaku, Tuhan lebih menyayangimu sehingga sekarang kamu sudah ada disisi-Nya. Dan aku percaya Tuhan akan menjagamu dengan baik disana. Tersenyumlah selalu di dalam surga, doaku selalu bersamamu. Aku menyayangimu.
Nice :)
BalasHapusThaks :)
BalasHapus