Langsung ke konten utama

Postingan

Satu Tahun Kehilanganmu

Angin di bulan September menembus sampai ke buku-buku kulitku, dan Sang Hujan tak pernah berhenti untuk mengabsenkan dirinya hinggap di dinding hari. Entah bagaimana air hujan bisa akrab dengan bulan September ini. Membawa rindu yang tak pernah mau bertanggung jawab, menelan hari bersama sepinya hati, menelantarkan sunyi untuk mengenal malam. Coba kau tengok keluar sebentar, mataharipun sedikit malu-malu untuk menguasai siang, karena mendung selalu menjadi pemeran utama di bulan September ini. Bukan awan mendung egois, tapi mungkin matahari ingin mendukung sang perindu agar sedikit terbebaskan dari jerat-jerat yang terkadang sulit diungkapkan. Rindu. Ya, benar, aku sangat mengenal rindu bersama hujan. Karena hujan selalu menyembunyikan rindu-rindu dibalik air yang jatuh ke bumi. Seperti perasaan ini yang masih saja mau menjelma dalam fikiranku, bukan hatiku, aku pertegas lagi---menjelma dalam fikiranku, bukan hatiku. Karena satu tahun kehilangannya adalah satu tahun aku membiarkan...

Kamu; Untuk Aku

Aku tak pernah meminta kedatangannya. Tapi, Allah-lah yang menghadirkannya untukku. Aku selalu percaya, Allah tak akan membuat lama aku patah hati, memendam sepi, mengiris sunyi sendiri, karena Allah tahu; bagaimana untuk menempatkan sesuatu yang tepat. Begitupun saat Allah menggariskan takdirnya untuk aku. Semua itu Allah yang membuat. Aku tak tahu menau tentang itu. Allah selalu mempunyai seribu cara untuk mempertemukan yang tidak jodoh menjadi jodoh, ataupun sebaliknya. Akupun pernah berjarak denganmu. Bahkan tak mengenal kata antar kata, sapa antar sapa, obrolan antar obrolan; tapi sekarang kamu yang selalu menjadi obrolanku. Menjadi pemeran utama dalam moodbosterku .  Aku mengerti, tak selamanya kamu menyenangkan, setiap orang pasti punya sisi menyebalkan, dan kamu juga ada dalam sisi itu. Tapi, menurutku lebih banyak menyenangkannya, prilaku kamu yang seakan membuat aku berfikir; kamu aneh, kamu alay, kamu gendut--selebihnya dibalik itu semua kamu adalah My Ev...

Kupeluk Komitmenku

Berawal dari ucapan "Terima kasih.", singkat tetapi menghasilkan sebuah cinta. Cinta yang sebelumnya--belum pernah terfikirkan. Keisengan itu membuahkan suka, berkembang menjadi cinta, dan menjalar sampai ke pelupuk jiwa. Mengapa ini terjadi, aku tak bisa menjawabnya, mungkin kisah ini yang paling bisa menjawabnya.  Rumit, aku rasa ya. Aku tetap dengan erat menggenggam tangannya, walaupun pada kenyataannya dia memeluk kekasihnya. Benteng perbedaan yang tinggi, sudah jelas-jelas ada di depan mata, tetapi aku tetap ingin menjaganya dengan hangat. Walaupun seribu badai yang menerjang, aku akan tetap berlari di jalanku dalam komitmenku. Bodoh, orang-orang pasti banyak berceloteh seperti itu. Aku tak peduli omong kosong yang diteriaki orang-orang disekitarku. Yang aku tahu, ini aku, ini kisahku, dan ini adalah komitmenku---sedikit sakit, tetapi membuat aku belajar bagaimana untuk mengikat kuat sebuah janji. Untuk Naiina, Dari Sepotong Mimpi yang Sempat Hilang ...

Sentilan Hati

Namanya juga hati; mudah rapuh, mudah meleleh, mudah mencair kalau disakiti. Aku pernah sangat bahagia, dulu, saat kau simpan aku di hati dari sebelah hati, dan aku pernah menjadi orang yang mungkin sangat menyakiti dan membuat dengki hati seseorang. Dan sekarang, aku merasakan hal yang sama. Mungkin ini sentilan bagiku, saat aku ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik, manusia adem ayem yang selalu  berusaha membuat nyaman hati seseorang. Kalau merasakan cemburu itu wajar, mudah dengki---wajar juga, karena aku punya rasa memiliki dia. Aku tak akan ceritakan dia siapa, karena aku rasa sudah berlipat-lipat aku gambarkan tentang dia. Bukan benci, tapi cinta juga punya titik kebosanan. Dan katanya kita harus mahir-mahir meng-upgrade ulang, memperbaharuinya. Tapi, apa bisa kita selalu bertepuk tangan sendirian, menunggu dia agar melakukan hal yang sama, sedangkan sorakan kita tak membuat dia tertarik. Kau bodoh, berjuang sendirian. "Hahahaha..", aku dengar ...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Ajaklah Duduk Bersama

Ada yang lebih menyakitkan daripada perpisahan, yaitu kehilangan. Bayangkan saja, dulu-- dia selalu hadir dalam setiap harimu, mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat tidur "sweet dream". Tetapi, jika itu menjadi sebuah kebiasaan-- lalu tiba-tiba menghilang, kamu yakin bisa tanpa dia. Apalagi sudah bertahun-tahun kamu menggenggam tangannya, kamu tahu kebiasaannya, kamu tahu kelemahannya, kelebihannya, kesukaannya, ketidaksukaannya, itu menyakitkan, coba ingatlah sebentar. Kamu yang biasa diantar atau dijemput di sekolah, di tempat kerja, di rumah temanmu, atau bahkan yang lainnya-- itu pengorbanan, seharusnya kamu tahu betul itu, dia meluangkan waktu untuk menatap kamu, menyapa kamu, tersenyum, bersenda gurau-- hanya untuk kamu. Senyum manisnya menyambutmu, berharap lelahmu hilang dalam setiap mata pelajaran yang berputar seharian diotakmu, atau bahkan meredakan setress dari tumpukan file-file dikerjaanmu, cacian maki dari atasanmu. Tapi, dia hadir saa...

Kamu; 96,8 km

96,8 km adalah kamu. Kamu yang selalu aku rindukan dibalik jarak. Jarak yang selalu membuatku menahan sesaknya dada. Mengempiskan asa yang terpendam. 96,8 km adalah perjalanan. Perjalanan untuk bertemu kamu. Menatap kedua bola matamu yang sayu. Selalu memaksa untuk menentang kelelahan dari setiap waktu. 96,8 km adalah rindu. Rindu yang selalu mengelilingi otakku disetiap malam. Tak pernah berhenti untuk berkata, "Temui aku!" Selalu membuatku menggugahkan semangat jiwaku. 96,8 km, tunggu aku pulang!