Cerita
kita sudah terlalu panjang untuk aku ceritakan pada orang-orang. Bahkan telinga
sahabat-sahabatku mungkin sudah jera mendengar rangkaian kisahku denganmu.
Kebahagiaan yang telah kita buat, kesedihan-kesedihan yang telah orang lain
buat, bahkan yang datang dari keluargamu sendiri. Karena aku selalu ingat
bagaimana kamu mengatakan; bahagia itu kita yang buat, dan sedih itu orang lain
yang buat. Tetapi pada kenyataanya aku masih bisa berdiri tegak walaupun
banyaknya angin-angin yang menghadang dari setiap sisiku. Aku tetap berjuang,
aku hiraukan dari setiap bola-bola masalah yang pernah datang menghampiri pada
hubungan kita, karena kamu adalah keyakinanku. Ya, kamu yang membuatku yakin
agar aku tetap berdiri disampingmu, mendampingimu.
1000
hari telah kita lewati. Tidak, tidak... aku rasa lebih dari itu. Aku
menggandengmu dari setiap musim, aku tetap menggenggamu dari setiap
tikaian-tikaian yang berusaha meleraikan kita. Aku tetap menguatkan tali yang
pernah kita ikat bersama. Lalu apa yang kauragukan lagi dariku? Sampai kapan
kauakan hanya menarik ulur tali, dan tidak kau ikatkan dengan pasti. Aku
manusia yang berkembang, aku menua dari setiap waktu yang aku langkahkan. Aku
yakin, kausadar akan hal itu. Lalu apa yang kauragukan lagi? Bisakah kau
memberhentikan waktu, agar waktu tak berceloteh setiap detiknya padaku---bahwa
dia berjalan, bahwa dia tidak diam—jalan ditempat. Bisakah kamu lakukan hal itu
untukku?
Kali
ini, kau akan berteriak.. “Beri aku waktu sedikit lagi!” dan teriakan kalimat
itu menjadi kebiasaanmu dari setiap pertanyaan yang belum aku dapatkan jawaban dengan
pasti sampai saat ini. Beri aku jawaban dari setiap waktu yang aku tunggu
untukmu, dari setiap detak jantung jam yang sudah aku lewati. Beri aku satu
kalimat kepastian bahwa kaumemang untuk hidupku, untuk setiap helaan nafas yang
aku hembuskan pada angin-angin kehidupanku. Haruskah aku menunggu lagi, lalu
sampai kapan? Apa sampai kakiku takbisa mendaki lagi denganmu?
Menunggu,
hanya untuk orang-orang hebat. Tuan. Dan ‘Kehebatan-ku’ dalam hal ini sudah
melayu, dia taklagi mekar seperti awal kita mengeratkan tali pada hubungan
kita. Aku hanya ingin belajar bijaksana dan menghargai waktu, bahwa menunggu
yang tidak pasti adalah salah. Aku bukan menyerah, tapi aku hanya ingin kamu
tahu---bahwa waktu mempunyai porsi, setiap hal mempunyai batasan. Begitupun
saat aku menunggumu. Aku tahu harus sampai sepanjang apa aku menunggu, ya, aku
menunggumu---tapi tidak untuk selamanya. Aku berhenti di sini. Berhenti dijalan
yang tak pernah kautunjukkan jalan pulangnya.
Komentar
Posting Komentar