Delapan bulan berlalu. Masih dalam bumi yang sama dan masih
memandang langit yang sama. Senyum manisnya masih tebal seperti dulu, saat
pertama aku memandangi fotonya di sela sela hari. Aku tak mengira Tuhan begitu
saja menghadirkan dia lagi, dengan senyum yang sama, tawa yang sama, dan
keceriaan yang sama.
Itu benar, jika aku harus mengakui aku merasa kehilangannya.
Hari itu dibawah rintik hujan, ada seorang wanita menunggu kedatangan
kekasihnya, dengan seribu harapan, seribu mimpi dan berharap rindu yang berbuah
lara itu akan terobati. Nyatanya, kekasihnya tidak datang. Padahal itu adalah
hari pertama dia bertemu dengan kekasihnya, yang biasanya dia bertemu dengan
hanya menatap foto di handphone dan bertemu suara diujung
telepon. Dia kira pertemuan itu berujung baik, ternyata itu salah, kekasihnya
membatalkan pertemuan itu. Sakit bukan main!
Aku mengurungkan niatku untuk lost contact,
sudahlah untuk apa aku berjuang untuk orang yang tak pantas diperjuangkan. Aku
biarkan semuanya begitu saja, walaupun seribu rindu selalu menerka disetiap
malamnya. Tetapi dia datang dengan harapan baru, mimpi baru dan kebahagiaan
yang sempat tertunda. Aku yakin Tuhan menghadirkan dia lagi tidak hanya untuk
saat ini, tetapi untuk hidupku dan untuk helaan nafasku hingga aku tak dapat
bernafas lagi. Baik baik sayang.
Dari seorang wanita yang sempat kebahagiannya tertunda.
Finna.
Komentar
Posting Komentar