Langsung ke konten utama

Bunga Terakhir

Aku masih ingat. Ketika senyummu masih menjadi senyumku, ketika candamu yang selalu kau selipkan di dinding kesedihanku, kebahagiaan dan kepedulian yang selalu kau jaga untukku. Bagaimana aku akan melepaskan itu begitu saja, jika kau masih saja berdiam diri dihati ini? Bagaimana Tuan, jelaskan!
Hari itu dimana tepat 14 februari, yang sebagian orang bilang adalah hari kasih sayang. Itu benar, dihari itu juga tiga tahun yang lalu kamu ungkapkan bahwa kau mencintaiku. Begitu seketika malaikat cinta menembakan panahnya tepat dihatiku, karena kamupun tahu aku juga mencintaimu, Tuan yang bermata indah. Masih dengan bunga mawar merah dan sebatang coklat berkemas hati berwarna merah muda, kau rayu aku agar aku bisa menjadi tambatan hatimu. Dan aku pun meng-yakan.
14 februari satu tahun yang lalu, aku terkenang, hatiku tersentak seketika dimana aku mengingat tanggal itu. Kesedihan membakar dada dan jiwa ini, mengapa kau harus pergi secepat ini. Pagi itu, mamah memberi kabar bahwa ada seorang lelaki datang kerumah dengan mengenakan kemeja hitam kotak-kotak, aku tahu itu kemeja kesukaanmu. Aku tersenyum kecil. Lagi-lagi dia datang dengan bunga mawar dan coklat berkemas hati berwarna merah muda. Aku tahu, itu dari kekasih yang selalu aku cintai. Dengan senyum lebar aku menerima bingkisan itu, bahagia tercampurkan haru bukan main. Kau tuliskan catatan kecil di dalamnya: 
"Happy Anniversary 2nd My Dear. Aku menyayangimu, tetaplah menjadi yang terbaik untukku dan masa depanku."
Kau seorang laki-laki yang selalu mengejutkanku memang, tetapi aku bahagia dan bahagia karena aku pernah memilikimu.
Setelah menerima bingkisan itu aku tak menerima kabarmu lagi. Dan akupun mendapatkan pesan singkat, ternyata tadi pagi juga kamu telah pergi selama-lamanya. Kecelakaan itu menghantarkanmu kepada-Nya. Air mata itu menetes deras, jantungku lemah seketika, aku diam tak berdaya bersama bunga di genggaman tanganku. Aku tak tahu hari itu adalah hari kebahagiaan terakhir yang kau beri untukku bersama bunga terakhirmu. Selamat jalan sayang, kau selalu dalam kenanganku, aku menyayangimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...