Langsung ke konten utama

Cinta Pertama

Aku mengenalmu bukan hanya satu tahun atau dua tahun, tapi sejak bangku sekolah dasar. Kita teman satu gank, tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan dan diantaranya adalah aku dan kamu. Itu benar, kita hanya sahabat seperti teman bermain, bercanda, berbagi cerita bahkan membagi tugas sekolah. Tuhan menakdirkan kita bersama hingga bangku SMA, dan kita tetap berenam satu gank. Tali persahabatan itu tak pernah putus ditengah jalan. 
Kau masih ingat Tuan sewaktu di bangku sekolah dasar, kita mencuri-curi waktu berdua untuk menyelesaikan tugas rumah bersama dibelakang warung sekolah. Tetapi karena polosnya kita saat sibuk mengerjakan tugas Ibu Guru memperhatikan kita dari belakang, sampai akhirnya dimarahi dan kita disetrap menghormati tiang bendera sampai waktu istirahat jam duabelas siang dan menjadi gurauan teman-teman kita sampai mereka mengejek-ngejek kita dan menertawakan kita. Tetapi kita yang hanya bisa unjuk gigi dan saling unjuk gigi senyum-senyum kecil. Dalam kepolosan sikapmu kau mengusap keringat yang bercucuran di dahiku dengan sapu tangan disakumu. Itu lucu bukan, Tuan?
Saat sekolah menengah pertama, saat masa orientasi siswa yang keenam hari. Kita terlambat masuk, karena kita sibuk mencari balon dan daftar bawaan yang lain. Aku hanya mendapatkan balon dua, dan sedangkan kakak kelas menyuruh kita untuk membawa tiga balon, dengan kebaikan kamu memberikan satu balon itu padaku dan membiarkan mu hanya membawa dua buah balon. Dan pada akhirnya kau disetrap di depan tiang bendera. Aku hanya memperhatikan kamu dari luar kelas, kamu tersenyum lebar setiap menatapku dengan matamu yang sipit-sipit menahan kepanasan. Entahlah aku tak mengerti mengapa kamu sebaik itu padaku. Aku anggap itu hanya kebaikan sebagai teman karib. Dan nyatanya semua itu salah.
Pada awal kenaikan kelas tiga pada saat ulang tahunku didepan teman-teman sekelas kamu menulis surat untukku, yang kau simpan pagi-pagi di meja tempat dudukku. Dan temanku membacanya di depan kelas dihadapan banyak teman-teman bahkan guru memperhatikan dari balik jendela. Dengan kata pujanggan dan rangkaian kata manismu kau mengucapkan beratus kata-kata yang sekarang sudah ku lupa. Tetapi aku masih ingat penggalan kalimat terakhirnya.
"Selamat ulang tahun, seseorang yang selalu aku impikan bidadari malamku. Aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?"
Pipiku memerah seketika, aku menutup wajahku malu-malu. Dan kau datang menghampiriku membawa sepetik bunga anggrek berwarna ungu yang katanya kau petik dibelakang taman sekolah. Aku dengan tidak sadar entah apa yang aku fikir saat itu, aku menerima bunga itu dengan mengangguk malu-malu. Aku tahu kamu adalah seseorang yang paling romantis yang pernah ku kenal, sampai-sampai seluruh satu sekolah tahu kalau kau adalah kekasihku, cinta monyetku dan cinta pertamaku.
Kau pernah menulis lebar-lebar dan mengukir di batu besar tulisan nama kita. Kamu bilang itu adalah tanda cinta kamu padaku, itu terdengar sangat konyol jika ku ingat sekarang. Kau ukir lebar-lebar nama "Deyput". Apa mungkin kau masih mengingatnya? Aku rasa mustahil.
Entah Tuan aku tak mengerti dengan perasaan ini, awalnya aku tak mempunyai perasaan yang sekedar melebihi teman. Tapi ketika kebersamaan kita yang semakin dekat, dengan yang kau taburi perhatian dan kasih sayang, bahkan kamu selalu menjagaku dengan baik, tak mau sedikitpun aku terluka dan oleh siapapun. Aku melihat ketulusan yang benar-benar nyata dan rasa sayang itu mulai tumbuh. Pada saat itu kau memang pujangga hatiku sekaligus cinta pertamaku. Indah, memang indah rasanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...