Indah,
saat kau hadir dengan tibanya membawa segala impian dan harapan yang selama ini
selalu kunantikan dan selalu kudambakan.
Senyuman
itu, saat kuingat jelas di depan cerminku aku mnemukan diriku sendiri disana,
aku yang menjadi aku yang tidak menjelma menjadi orang lain.
Awalnya,
kau tanam semua impianku dengan bibit-bibit yang aku harap suatu saat akan
tumbuh menjadi bunga, tapi mengapa kau yang merusaknya sendiri. Kau menanam
tapi kau yang menghancurkannya juga.
Saat
kau cibir aku dengan seribu rayuan gombalmu, kau katakan aku yang akan menjadi
puteri di pelaminan nanti, tapi mengapa kau yg mencabik omonganmu sendiri.
Dimana kau simpan kata-kata itu dengan rapih? Dibawah kakimu yang sehingga
tidak ada harganya? Serendah itukah, tuan?
Aku
bukan wanita bodoh yang begitu saja menerima lelaki yg tidak pantas aku jadikan
imam dalam hidupku.
Saat
kulihat kemesraan itu dalam gambar, apa yg ingin kamu katakan lagi, mengelah
dengan seribu omong kosongmu? Cukup, aku sudah lelah atas kebohongan ini.
Komentar
Posting Komentar