Langsung ke konten utama

Jarak

Jarak. Setiap hari selalu ku telan kata itu dalam-dalam agar tidak membuat lara dihati. Kau yang begitu jauh disana dengan tempatmu, dan aku disini dengan tempatku. Kesendirian yang selalu mengelabuiku selalu menghanyutkanku dalam kesepian dan kerinduan. Pertemuan adalah hal yang paling aku tunggu, karena rindu hanya bisa terobati oleh satu kata yaitu "bertemu", menurutku tidak ada penawar lain yang paling jitu kecuali hal satu itu. 
Suara diujung telefonmu yang selalu menjadi penawar rindu sementara, Ya, sementara! setelah suaramu itu tertutup oleh sambungan telefon, rindu itu muncul lagi. Suara yang terkadang dalam selipan bincangan itu kau alunkan suara merdumu dengan menyanyikan lagu kesukaanku, dan menjelma masuk dalam mimpi tiap malamku. Rasanya aku ingin selalu bermimpi dan tertidur jika itu selalu bersamamu. Pesan singkat yang selalu hinggap di ponselku yang menjadi selingan rindu sementara, Ya lagi-lagi sementara! Pesan yang terkadang menilaiku terlihat bodoh di depan mata orang-orang yang melihat, tertawa sendiri dengan ponselku seakan-akan sedang bergurau denganmu langsung. Yang membuatku gila dengan seribu kata-kata puitismu itu. Menyenangkan memang, aku tidak bisa membohongi itu. Beradu kata-kata manis, yang kuharap itu tidak hanya "kata" dan "tulisan".
Tetapi jika kegelisahan itu mulai datang, aku hanya bisa memandangi ponselku dengan selang beberapa menit, menghidukan layar lalu mematikan layarnya, menghidupkan lalu mematikan dengan berulang-ulang kali. Berharap datang satu pesan singkat saja darimu. Bagaimana keadaanmu disana? Apa kau tidak memikirkanku bagaimana aku menggunung seribu keresahan di tempat ini? Kau kemana? Satu jam melewati tanpa kabarmu saja aku tidak bisa, bagaimana untuk melewati beberapa hari bahkan bulan. Mengertilah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...