Jarak. Setiap hari selalu ku telan kata itu dalam-dalam agar tidak membuat lara dihati. Kau yang begitu jauh disana dengan tempatmu, dan aku disini dengan tempatku. Kesendirian yang selalu mengelabuiku selalu menghanyutkanku dalam kesepian dan kerinduan. Pertemuan adalah hal yang paling aku tunggu, karena rindu hanya bisa terobati oleh satu kata yaitu "bertemu", menurutku tidak ada penawar lain yang paling jitu kecuali hal satu itu.
Suara diujung telefonmu yang selalu menjadi penawar rindu sementara, Ya, sementara! setelah suaramu itu tertutup oleh sambungan telefon, rindu itu muncul lagi. Suara yang terkadang dalam selipan bincangan itu kau alunkan suara merdumu dengan menyanyikan lagu kesukaanku, dan menjelma masuk dalam mimpi tiap malamku. Rasanya aku ingin selalu bermimpi dan tertidur jika itu selalu bersamamu. Pesan singkat yang selalu hinggap di ponselku yang menjadi selingan rindu sementara, Ya lagi-lagi sementara! Pesan yang terkadang menilaiku terlihat bodoh di depan mata orang-orang yang melihat, tertawa sendiri dengan ponselku seakan-akan sedang bergurau denganmu langsung. Yang membuatku gila dengan seribu kata-kata puitismu itu. Menyenangkan memang, aku tidak bisa membohongi itu. Beradu kata-kata manis, yang kuharap itu tidak hanya "kata" dan "tulisan".
Tetapi jika kegelisahan itu mulai datang, aku hanya bisa memandangi ponselku dengan selang beberapa menit, menghidukan layar lalu mematikan layarnya, menghidupkan lalu mematikan dengan berulang-ulang kali. Berharap datang satu pesan singkat saja darimu. Bagaimana keadaanmu disana? Apa kau tidak memikirkanku bagaimana aku menggunung seribu keresahan di tempat ini? Kau kemana? Satu jam melewati tanpa kabarmu saja aku tidak bisa, bagaimana untuk melewati beberapa hari bahkan bulan. Mengertilah!
Komentar
Posting Komentar