Kali ini aku pejamkan mataku, dalam dan semakin dalam. Hati yang masih menjerit seakan terhimpit, jiwaku berteriak keras, tapi aku berusaha tak mendengarnya. Melawan dan terusku lawan berkali-kali, kuat dan kuat berusaha menguatkan hatiku sendiri, menenangkan hati yang sebenarnya dirikupun tak tenang.
Tandu pelaminan, ya, ku ulang kembali lagi, "Tandu Pelaminan". Kamu tahu, dulu sebelum Tuhan ingin menjadikan aku lebih baik, aku pernah mempunyai banyak impian dengannya, impian yang ku yakini bahwa setiap insan manusiayang saling mencintai pasti inginkan. Menjalin hubungan dengan baik, memasang cincin di jari manis, berucap qabul untuknya, dan memasang senyum bahagia di atas tandu pelaminan atas Rahmat dan Kasih Sayang-NYA. Tapi sayangnya Tuhan lebih sayang padaku sehingga Dia inginkan aku mendapatkan yang lebih baik, dan bahkan sangat lebih baik dari dia yang ku kira paling terbaik. Aku mengira, kalau ia adalah jodohku yang akan menyapaku di persimpangan jalan di mana aku selalu menunggunya dengan setia di tengah seribu musim yang berlalu, sayangnya aku salah besar, ia berjalan dan berbelok ke arah laki-laki itu. Manis yang terasa kecut!
Seharusnya aku mengerti, dan tak perlu penjelasan yang lebih detail sejak pertemuan terakhir kita di bawah salju yang membasahi mantelku saat itu, ketika kau menggenggam tangannya erat di depan ke dua mataku. Ya, aku lihat kebohongan yang sangat dalam di matamu. Mata yang pernah menangis dan tertawa bersamaku dulu, mata yang pernah sangat mengelabui hatiku yang gundah menjadi bersemi kembali. Kau tak bisa membohongiku, kau tak bisa membohongi, kekasihmu saat itu.
Aku berdiri di sini dari kejauhan, memegang gelas yang berisi orange juice kesukaanmu, bersulang untuk kebahagiaanmu, dan doaku akan selalu melekat dalam bibir ini sampai Tuhan memanggilku untuk pulang.
"Tuhan, tolong bantu aku!", gumamku dalam hati berkali-kaliKu langkahkan kakiku dengan berat, ku angkat kepalaku, dan ku pasang senyuman lebar yang seakan tak melekat dibibirku. Mereka berdua berdiri di atas sana, di atas tandu pelaminan menyambut tamu-tamu yang berdatangan bersama senyuman-senyuman kebahagiaan mereka, bagaikan Ratu dan Raja.
Tandu pelaminan, ya, ku ulang kembali lagi, "Tandu Pelaminan". Kamu tahu, dulu sebelum Tuhan ingin menjadikan aku lebih baik, aku pernah mempunyai banyak impian dengannya, impian yang ku yakini bahwa setiap insan manusiayang saling mencintai pasti inginkan. Menjalin hubungan dengan baik, memasang cincin di jari manis, berucap qabul untuknya, dan memasang senyum bahagia di atas tandu pelaminan atas Rahmat dan Kasih Sayang-NYA. Tapi sayangnya Tuhan lebih sayang padaku sehingga Dia inginkan aku mendapatkan yang lebih baik, dan bahkan sangat lebih baik dari dia yang ku kira paling terbaik. Aku mengira, kalau ia adalah jodohku yang akan menyapaku di persimpangan jalan di mana aku selalu menunggunya dengan setia di tengah seribu musim yang berlalu, sayangnya aku salah besar, ia berjalan dan berbelok ke arah laki-laki itu. Manis yang terasa kecut!
Seharusnya aku mengerti, dan tak perlu penjelasan yang lebih detail sejak pertemuan terakhir kita di bawah salju yang membasahi mantelku saat itu, ketika kau menggenggam tangannya erat di depan ke dua mataku. Ya, aku lihat kebohongan yang sangat dalam di matamu. Mata yang pernah menangis dan tertawa bersamaku dulu, mata yang pernah sangat mengelabui hatiku yang gundah menjadi bersemi kembali. Kau tak bisa membohongiku, kau tak bisa membohongi, kekasihmu saat itu.
Aku berdiri di sini dari kejauhan, memegang gelas yang berisi orange juice kesukaanmu, bersulang untuk kebahagiaanmu, dan doaku akan selalu melekat dalam bibir ini sampai Tuhan memanggilku untuk pulang.
Komentar
Posting Komentar