Langsung ke konten utama

Di Bawah Kebahagiaanmu

Kali ini aku pejamkan mataku, dalam dan semakin dalam. Hati yang masih menjerit seakan terhimpit, jiwaku berteriak keras, tapi aku berusaha tak mendengarnya. Melawan dan terusku lawan berkali-kali, kuat dan kuat berusaha menguatkan hatiku sendiri, menenangkan hati yang sebenarnya dirikupun tak tenang. 
"Tuhan, tolong bantu aku!", gumamku dalam hati berkali-kali
Ku langkahkan kakiku dengan berat, ku angkat kepalaku, dan ku pasang senyuman lebar yang seakan tak melekat dibibirku. Mereka berdua berdiri di atas sana, di atas tandu pelaminan menyambut tamu-tamu yang berdatangan bersama senyuman-senyuman kebahagiaan mereka, bagaikan Ratu dan Raja.

Tandu pelaminan, ya, ku ulang kembali lagi, "Tandu Pelaminan". Kamu tahu, dulu sebelum Tuhan ingin menjadikan aku lebih baik, aku pernah mempunyai banyak impian dengannya, impian yang ku yakini bahwa setiap insan manusiayang saling mencintai pasti inginkan. Menjalin hubungan dengan baik, memasang cincin di jari manis, berucap qabul untuknya, dan memasang senyum bahagia di atas tandu pelaminan atas Rahmat dan Kasih Sayang-NYA. Tapi sayangnya Tuhan lebih sayang padaku sehingga Dia inginkan aku mendapatkan yang lebih baik, dan bahkan sangat lebih baik dari dia yang ku kira paling terbaik. Aku mengira, kalau ia adalah jodohku yang akan menyapaku di persimpangan jalan di mana aku selalu menunggunya dengan setia di tengah seribu musim yang berlalu, sayangnya aku salah besar, ia berjalan dan berbelok ke arah laki-laki itu. Manis yang terasa kecut!

Seharusnya aku mengerti, dan tak perlu penjelasan yang lebih detail sejak pertemuan terakhir kita di bawah salju yang membasahi mantelku saat itu, ketika kau menggenggam tangannya erat di depan ke dua mataku. Ya, aku lihat kebohongan yang sangat dalam di matamu. Mata yang pernah menangis dan tertawa bersamaku dulu, mata yang pernah sangat mengelabui hatiku yang gundah menjadi bersemi kembali. Kau tak bisa membohongiku, kau tak bisa membohongi, kekasihmu saat itu.

Aku berdiri di sini dari kejauhan, memegang gelas yang berisi orange juice kesukaanmu, bersulang untuk kebahagiaanmu, dan doaku akan selalu melekat dalam bibir ini sampai Tuhan memanggilku untuk pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...