Di malam ini dimana air hujan telah lelah menangis, udara dingin yang terasa merasuki kulitku dengan perlahan, dan disini aku masih diam terpaku mengingatmu. Sejak kepergianmu dua bulan yang lalu, saat air mata begitu deras jatuh dipipiku, yang membuat mataku menjadi lebam seharian. Aku memang mungkin terlihat lemah, tapi memang kenyataanya seperti itu, karena aku memang sangat menyayangimu dengan tulus, mencintaimu dalam setiap detak jantungku, mengasihi anda dengan setiap doa yang selalu kupanjatkan disetiap ibadahku. Tapi entahlah aku harus berkata apalagi, memang kenyataanya seperti itu, kamu tak pernah bisa menghargai kehadiranku, tak pernah bisa menganggapku ada, bermain dengan wanita lain dengan semaumu, bercengkrama melewati pesan singkat dibelakangku, dan aku tak tahu seromantis apa pesan itu. Jahat sekali bukan!
Sayangnya aku memang terlihat bodoh, yang selalu berharap setiamu, yang selalu berharap pengertianmu, yang selalu berharap kau selalu hadir di saat aku membutuhkanmu. Mungkin itu terlalu sulit bagimu, bukan begitu Tuan! Aku tak sekuat mereka, aku hanya wanita polos dan sederhana yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan kepadamu, walaupun itu tak pernah berarti dimatamu. Sebesar apapun usahaku untuk membahagiakanmu jika kau tak menganggapku penting, itu takkan berarti setitikpun, harusnya aku sadar itu sedari dulu, saat aku mulai curiga bahwa kau bukan hanya bersamaku. Sudahlah, semoga kau bahagia dengannya. Seorang wanita yang setia memang tak pantas untuk mempertahankanmu, karena wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Kehadiran dia yang sekarang sudah cukup mengobati luka yang kau tinggal dihati ini, dan aku yakin dia lebih baik darimu, Tuan yang pernah ku kira pria paling terbaik!
Komentar
Posting Komentar