Kamu pernah pergi, dan itu pernah sangat menyesakkan dadaku. Membuat duka yang terdalam, mengisi lubang hati dengan tetesan luka dan meninggalkan seribu lara. Sakit memang sakit. Kamu yang tak pernah bisa merubah keegoisanmu, yang membentak dengan suara tinggimu, sehingga aku hanya ingin menutup telinga dan tak pernah mau mendengar kamu marah. Apa mungkin saat kau dekat denganku, aku hanya seseorang yang membuat kamu mengeluarkan amarahmu? Apa mungkin aku hanya pelampiasan seribu beban yang ada di pundakmu? Bagaimana bisa, lalu aku ini kekasih seperti apa? Jika tidak bisa menjadi seorang sahabat untuk kekasihnya. Aku tak pernah meninggikan nadaku ketika kau meluapkan kemarahanmu dan entah itu apapun sebabnya. Aku diam, karena aku tak ingin meninggikan keegoisanku sendiri, yang selalu berharap kediamanku ini engkau mengerti. Tapi lalu hasilnya apa? Kamu masih saja mengulangi kesalahanmu, tak pernah mau mengerti. Bukalah matamu, aku ini lelakimu. Datanglah ketika kau membutuhkanku, tetapi tidak untuk jadi pelampiasan kemarahanmu. Aku ingin menjadi sahabatmu juga, yang bisa berbagi dengan kemanisan ataupun kepahitan dalam setiap nafas hidupmu. Sulit bagiku untuk membentuk cinta lagi. Memang aku tak bisa menaifkan diri bahwa kamu masih menjadi untaian hati kecil yang masih aku harapkan. Tetapi sudahlah, aku tak mau luka untuk kedua kalinya, karena itu sangat menyakitkan. Pergilah!
Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Komentar
Posting Komentar