Langsung ke konten utama

Hati yang Kau Tinggalkan

Dalam kesibukan ku yang selalu tergumpal oleh urusan-urusan pekerjaan dan studyku. Aku masih saja menyelipkan fikiran tentangmu, apa yang kamu lakukan disana, apa yang kau fikirkan dan apa yang sedang kamu kerjakan. Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama kita tidak bersua semenjak tiga bulan yang lalu saat kamu pergi dari kehidupan aku. Aku tak mengerti cinta apa yang kamu tanam dihati ini, mengapa kamu masih meninggalkan hatimu dalam hati ini, mengapa kamu menyiksaku atas perasaan ini, sehingga sampai saat ini aku masih menutup rapat-rapat pintu untuk orang lain, dan aku masih mengunci hati ini untuk orang yang akan menggantikanmu. Mengapa, Tuan? Seandainya engkau tau, aku sakit dengan keadaan ini. Bagaimana aku memulihkannya kembali, bagaimana aku menyembuhkannya kembali dan bagaimana aku memperbaikinya kembali. Sungguh Tuan aku masih terpukul atas kejadian itu.
Kata maaf yang kau ucapkan berulang kali dalam pesan-pesan itu, belum aku bisa pulihkan menjadi baik lagi. Aku masih terpukul, entah kenapa mungkin aku belum merelakan kamu untuk pergi dan dimiliki oleh orang lain. Aku sangat membencimu karena satu hal yang membuat kamu pergi dari hidupku, tapi sayang ku lebih besar dari rasa benciku. Ya! Lebih besar.
Aku takut Tuan, saat aku memperbaiki semua menjadi baik kembali dan kamu dekat denganku lagi, aku takut aku malah menyiksa perasaanku sendiri karena sesungguhnya aku masih berharap kamu ada dalam genggamanku. Maafkan aku, Tuan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...