Dalam kesibukan ku yang selalu tergumpal oleh urusan-urusan pekerjaan dan studyku. Aku masih saja menyelipkan fikiran tentangmu, apa yang kamu lakukan disana, apa yang kau fikirkan dan apa yang sedang kamu kerjakan. Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama kita tidak bersua semenjak tiga bulan yang lalu saat kamu pergi dari kehidupan aku. Aku tak mengerti cinta apa yang kamu tanam dihati ini, mengapa kamu masih meninggalkan hatimu dalam hati ini, mengapa kamu menyiksaku atas perasaan ini, sehingga sampai saat ini aku masih menutup rapat-rapat pintu untuk orang lain, dan aku masih mengunci hati ini untuk orang yang akan menggantikanmu. Mengapa, Tuan? Seandainya engkau tau, aku sakit dengan keadaan ini. Bagaimana aku memulihkannya kembali, bagaimana aku menyembuhkannya kembali dan bagaimana aku memperbaikinya kembali. Sungguh Tuan aku masih terpukul atas kejadian itu.
Kata maaf yang kau ucapkan berulang kali dalam pesan-pesan itu, belum aku bisa pulihkan menjadi baik lagi. Aku masih terpukul, entah kenapa mungkin aku belum merelakan kamu untuk pergi dan dimiliki oleh orang lain. Aku sangat membencimu karena satu hal yang membuat kamu pergi dari hidupku, tapi sayang ku lebih besar dari rasa benciku. Ya! Lebih besar.
Aku takut Tuan, saat aku memperbaiki semua menjadi baik kembali dan kamu dekat denganku lagi, aku takut aku malah menyiksa perasaanku sendiri karena sesungguhnya aku masih berharap kamu ada dalam genggamanku. Maafkan aku, Tuan!
Komentar
Posting Komentar