Langsung ke konten utama

Pelarianmu

Ditengah buku-buku dan laptop kesayangan ku yang berceceran disampingku, aku berusaha untuk menyelesaikan semuanya secara serius. Tapi mengapa pikiran ini selalu menerka dengan seribu bayanganmu, yang membuatku mencampurkan seribu cinta dan seribu kebencian. Kamu yang biasanya setia menemaniku dalam menyelesaikan tugas-tugas yang selalu memelototiku setiap harinya kini kau hilang tinggal bayangan, ocehan dan gangguan yang selalu kau tikam saat aku mengerjakan tugas itu semua tinggal butiran-butiran angin yang pergi entah kemana. Aku masih pilu atas kejadian terakhir itu, saat kulihat manis manjanya kau bersama perempuan itu. Perempuan yang pernah ada dihati kamu, perempuan yang katanya rela memutuskan urat nadinya demi kamu. Kamu tidak pernah menyadari itu semua Tuan, kecemburuan yang selalu kusimpan sendiri dalam hati ini hanya bisa kupendam dan kusimpan dalam-dalam. Saat kau menceritakan dia aku hanya mendengarkan dengan manis, telingaku aku pasang baik-baik untuk itu semua karena aku hanya ingin selalu buatmu bahagia dan selalu ada untukmu. Tapi aku muak lama-lama mendengar itu semua, kau anggap aku apa pelarianmu? yang seenaknya kau datang dan pergi begitu saja? dimana perasaanmu. Aku ini kekasihmu! Bukan kekasihmu tapi pernah menjadi kekasihmu. Ya benar semuanya hilang ditelan bumi, ketika kau katakan kalau kamu lebih memilihnya daripada aku. Sudah cukup aku bohongi perasaanku sendiri walaupun bayangmu setiap malam masih mengganggu mimpi-mimpiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...