Ditengah buku-buku dan laptop kesayangan ku yang berceceran disampingku, aku berusaha untuk menyelesaikan semuanya secara serius. Tapi mengapa pikiran ini selalu menerka dengan seribu bayanganmu, yang membuatku mencampurkan seribu cinta dan seribu kebencian. Kamu yang biasanya setia menemaniku dalam menyelesaikan tugas-tugas yang selalu memelototiku setiap harinya kini kau hilang tinggal bayangan, ocehan dan gangguan yang selalu kau tikam saat aku mengerjakan tugas itu semua tinggal butiran-butiran angin yang pergi entah kemana. Aku masih pilu atas kejadian terakhir itu, saat kulihat manis manjanya kau bersama perempuan itu. Perempuan yang pernah ada dihati kamu, perempuan yang katanya rela memutuskan urat nadinya demi kamu. Kamu tidak pernah menyadari itu semua Tuan, kecemburuan yang selalu kusimpan sendiri dalam hati ini hanya bisa kupendam dan kusimpan dalam-dalam. Saat kau menceritakan dia aku hanya mendengarkan dengan manis, telingaku aku pasang baik-baik untuk itu semua karena aku hanya ingin selalu buatmu bahagia dan selalu ada untukmu. Tapi aku muak lama-lama mendengar itu semua, kau anggap aku apa pelarianmu? yang seenaknya kau datang dan pergi begitu saja? dimana perasaanmu. Aku ini kekasihmu! Bukan kekasihmu tapi pernah menjadi kekasihmu. Ya benar semuanya hilang ditelan bumi, ketika kau katakan kalau kamu lebih memilihnya daripada aku. Sudah cukup aku bohongi perasaanku sendiri walaupun bayangmu setiap malam masih mengganggu mimpi-mimpiku.
Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...
Komentar
Posting Komentar