Langsung ke konten utama

Heart Vs Mind

Kali ini aku kembali dengan cerita yang baru, cerita tentang seorang pria yang begitu besar memberikan harapannya padaku. Benar, aku telah bangkit setelah setengah tahun yang lalu aku melepasnya, melepas kepergian dari seorang pria yang sempat dulu menjadi pria yang paling sempurna di mataku. Aku tahu kehadiran wanitamu yang baru, sudah lebih cukup mengobati luka yang pernah aku berikan padamu, aku harap senyuman lebar saat kau pajang fhoto bersamanya di "display picture"-mu adalah kebahagiaan yang tak pernah hilang dibenakmu dan wanitamu bisa lebih mencintaimu dari pada aku yang dulu yang begitu sangat mencintaimu.
Mencintai, apalah arti semua itu jika semuanya telah pergi. Aku mulai terbangun lagi dari mimpi masa laluku, dan aku mulai membukakan pintu hati ini untuk seseorang yang baru. Dia hadir, seseorang yang sebelumnya belum pernah aku temui, dia adalah sahabat dari temanku. Kehadirannya yang saat pertama sempat aku tolak mentah-mentah, kini dia menempati posisi yang paling utama dihatiku. Entah bagaimana, dia menanjak lebih tinggi ke level paling atas. Aku masih tidak mengerti, mengapa Tuhan membuatku lemah untuk mencintainya. Aku terkadang tak mengerti dengan perasaan ini. Perasaan yang dulu aku anggap hanya biasa saja, tetapi Tuhan membalikannya sembilan puluh derajat. Hatiku, otakku masih bertanya-tanya, mengapa harus dia, aku takut aku terjatuh pada orang yang salah, aku takut terhimpit pada cinta yang salah, walaupun aku tahu cinta tak pernah salah, tapi ya otakku menolak untuk mencintai seseorang tetapi hatiku menjerit dia dan dia lagi. Hingga dia sering hadir di mimpiku, sampai aku tercengang mengapa harus dia. Tanda tanya besar disetiap hari selalu menyapa otakku, mengapa dan mengapa? Hingga saat ini aku tak tahu mengapa aku mulai mencintainya. 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Masa Lalumu

Dia memang sudah paling lama hadir di kehidupan kamu, sehingga kamu mungkin pernah mengaguminya begitu dalam, dan bahkan mencintainya dengan sangat. Ya, aku bisa pahami itu. Hal yang wajar, seseorang pasti mempunyai cerita di masa lalunya, baik ataupun buruk. Aku tak bisa pungkiri tentang itu, karena aku pun punya masa lalu. Tapi, apa kamu yakin-- kamu bisa menoleh sepenuhnya, ketika masa lalumu masih saja kau tancapkan dengan tongkat dihatimu, dan dia masih hadir setiap hari dikehidupan kamu; yang paling setia menyapamu disetiap pagi hingga malam, menjadi teman bercandamu disela-sela hari, yang paling setia mendengar keluhanmu ( stay on chat ). Dan aku, aku tak bisa paling setia hadir dalam ruang obrolan chat mu, karena aku mempunyai dunia yang mungkin kamu sudah pahami, membuat otakku berputar seharian, file-file yang bertumpuk dimeja kerja adalah temanku dalam mewarnai hari, walaupun pada kenyataannya tak pernah berwarna. Karena warna hidupku ada padamu, senyummu--- d...

Di Bawah Kebahagiaanmu (2)

Aku merasakan angin sepoy-sepoy yang sedang berusaha merasuki kulitku, dan mataku masih ku pejamkan. Jiwaku merasakan kehadiran seseorang di belakangku, aku tahu itu kamu. Aku bisa merasakan kehadiranmu walaupun ke dua mataku belum melihat sosokmu. Bagaimana tak ku kenali, aku sudah mengenalmu sejak kita duduk di kelas putih abu. Sejak kita masih makan es krim coklat bersama di atas balkon ini, sampai kau selalu merengeh kepadaku untuk dibelikan es krim lagi, kau tidak akan puas jika belum memakan hingga tiga kali, aku tahu itu kamu. Kau menyapaku dengan memanggil, "Hi, Tigerku!", katanya itu panggilan pahlawan untukku. Karena sejak dulu hingga sekarang aku selalu menjadi pahlawanmu, sekalipun aku harus mengorbankan perasaanku, apa kau yakin dengan itu? Tapi, apa aku harus meyakini bahwa kau bukan ditakdirkan untukku, berdiri di atas tandu pelaminan bersamamu, kenapa? Apa kau bisa jelaskan? Aku sangat mengerti, kamu menunggunya sudah sekian lama, dan kini pangeranmu ...