Langsung ke konten utama

Jangan Ucapkan Selamat Tinggal

Aku masih membisu ketidakberdayaan mengelabuiku, mungkin aku sudah terjatuh terlalu dalam. Entah cinta apa yang dia pernah tinggalkan dihati ini. Bahkan aku tidak mengerti, bagaimana dia menumbuhkan benih benih cinta dalam diriku, sampai hatiku tertinggal dihatinya. Aku tahu dan kamupun tahu, perpisahan ini akan menimbun seribu kesedihan. Mengapa kita harus dipisahkan? Kau menjauh dan akupun menjauh. Walau berat hati aku harus katakan kalau aku masih mencintaimu. Bahkan setelah kau pergi jauh dariku, dalam fikiran selalu terkenang semua tentangmu. Bagaimana aku mengembalikannya menjadi baik? Apapun kebahagiaan itu semua sudah terasa hilang, hanya kesedihan dan mungkin tidak akan hilang. Bagaimana caranya agar membuat diriku mengerti keadaan ini, sedangkan hatiku masih menolaknya.
Setiap malam dalam renungan dan lautan kenangan yang selalu menggangguku, air mata yang tidak terasa sudah jatuh dipipi mengalir begitu deras, ini air mata atau bola api yang mengalir, mengapa begitu menyakitkanku. Sudah empat musim silih berganti, tapi musim kesedihan ini masih belum berubah juga. Warna kesedihan sudah semua kulewati tetapi tidak ada satupun yang dapat meringankannya. Siapa yang tahu semua akan terjadi seperti ini. Apa yang aku harus lalui sekarang? Sayang, jangan pernah ucapkan selamat tinggal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kebahagiaan

Mereka masih bersama-sama bercanda tawa lepas bahagia, seperti Adam dan Hawa saat pertama bertemu melepas rindu yang sudah lama menahan sesak di dalam dadanya. Detik, menit, jam dan waktupun sudah bergulir sangat cepat, rasa mereka semakin hari semakin bertambah , bahkan tahun menahun sudah mereka hempaskan bersama. Rama sudah seperti Rima, dan Rima sudah seperti Rama. Bahkan mereka lupa sejak kapan sudah saling mencintai satu sama lain. Rama sudah menjadi kekurangan Rima, dan Rima sudah menjadi kelebihan Rama, dan mereka tahu bahwa itu adalah cinta yang saling melengkapi. Senja itu, seorang sahabat mengajak Rama untuk bertemu kekasihnya. Semuanya terlihat masih baik-baik, Rama berdandan sangat rapih, dia poleskan gel di rambutnya, dan dibelinya setangkai mawar putih, berharap menambah suasana romantis pada malam mi n ggu itu. Terlihat ramai keluarganya, bekas piring dan makanan bergelatak di mana saja. Rama menemui Rima di belakang rumahnya.  “Ada apa? Apa yang telah t...

Untuk Pangeran Kodokku

Sudah seminggu ini aku tak dengar kabarmu, kamu yang selalu mengucapkan selamat pagi hingga selamat tidur. Padahal tak seharusnya aku kehilanganmu, kamu bukan siapa siapa aku, kamu bukan kekasih aku dan kamu bukan.. Yasudahlah pokonya kamu bukan seseorang yang special. Tapi mengapa aku harus merasa sangat hampa tanpa melihatmu, merasa sendiri tanpa kehadiranmu biasanya kau datang dengan sapa senyum lebar dan merangkulku. Aku kini bahkan tak melihat batang hidungmu. Aku rindu, itu benar. Walaupun kita hanya sebatas sahabat karib, tapi jauh dalam lubuk hati ini kusimpan namamu, entah kenapa aku merasa nyaman di dekatmu bahkan perhatianmu melebihi kekasihku, terkadang aku lebih memilih pergi bersamamu dibandingkan dengan lelaki yang super cuek itu, yang tak bisa sedikitpun memahami keinginanku, dia egois. Tapi senyummu Tuan, yang sering ku panggil "pangeran kodok" aku tak tahu mungkin selama kita dekat benih benih cinta ini mulai muncul, aku tak mengerti kenapa aku merasa k...

Bintang Terangku

Sudah hampir satu tahun aku kehilanganmu. Kehilangan sesosok laki-laki yang sudah ku kenal sejak lama, bahkan jiwanya pun sudah menyatu dalam ragaku. Bagaimana aku melupakannya, jika bersamamu adalah hal yang paling indah ; tak pernah aku temui sebelumnya? Ajari aku agar aku bisa melupakanmu, melupakan senyum lagi, yang bahwa kenyataannya aku sudah kehilanganmu selamanya. Kau hanya meninggalkan namamu di atas batu nisan. Kau selalu berkata, jika aku merindukanmu, lihatlah ke atas langit, jika ada bintang paling terang itulah aku yang sedang tersenyum di surga. Sudah hampir sebulan ini, hujan terus menyelimutiku setiap malam. Sehingga aku tak bisa melihat senyuman kamu dari atas balkon ini. Aku tak bisa merasakan kehadiran kamu lagi. Membuat rindu begitu merasuk dalam jiwaku, mengganggu, menyiksaku-- membuat aku lelah untuk menemukanmu.  Hari esok adalah hari pernikahanku, dan itu yang aku harus hadapi. Dia melamarku tiga bulan yang lalu, d ia anak dari teman Ayahku....